Topi Bambu; Dulu untuk Kemanusiaan, Mengapa Sekarang Ditinggalkan?

Rumah Produksi Topi Bambu di Randegan

Dijajah Jepang selama tiga setengah tahun tentu banyak meninggalkan luka dan duka. Hidup serba kekurangan, Suprapto (alm.) lantas pergi ke kebun dan duduk melamun di bawah pohon durian. Seperti sedang bermimpi, ia mendengar kalimat "Depan mu dimakan selamanya hidup cukup." Ia tersadar lalu melihat banyak pohon bambu di depannya. Mengira ada berlian atau emas di dalam bambu tersebut, Prapto, sapaan akrabnya, lalu memotongnya.

Apa yang Prapto temukan? Tidak ada. Dikupas bambu tersebut sampai bagian dalam. Hasilnya nihil. Tak terasa beberapa ruas telah ia potong. Lalu, apa sebenarnya maksud kalimat yang ia dengar?

Terkena panas beberapa hari, kupasan bambu pun memuai. Prapto lalu membawanya pulang. Di rumah, Prapto memiliki topi keibodan yang biasanya digunakan orang Jepang. Dengan memanfaatkan bambu yang telah ia kupas, ditirulah topi keibodan. Penjajah pun akhirnya mengetahui hal tersebut. Mereka justru memesan topi buatan pria yang berdomisili di Desa Tunggara, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara ini sebanyak-banyaknya.

Bingung cara memenuhi permintaan, Prapto mengandalkan warga sekitar. Saat itu banyak orang-orang yang sakit kakinya dan butuh biaya untuk berobat. Lalu mereka dikumpulkan untuk membuat topi dari bambu.

Salah seorang pria bernama Wagiman ingin membuka usaha sendiri namun tidak memiliki uang. Ia memutuskan untuk menjadi salah satu pekerja di tempat Prapto. Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), Wagiman melanjutkan ke sekolah kelas pembangunan. Dalam kurun waktu enam bulan, ia belajar tentang kerajinan, pertukangan, dan pertanian. Jelang waktu ujian, pria kelahiran 1953 ini memilih untuk fokus pada satu bidang. Karena jika akan bertani ia tidak memiliki lahan, akan menjadi tukang modalnya besar, akhirnya dipilihlah bidang kerajinan. Saat itu, pemasaran topi bambu masih sangat sulit.

Mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, Wagiman mengambil jalan untuk membuat topi di rumahnya sendiri di Desa Randegan. Bak gayung bersambut, Dinas Perindustrian setempat mengetahui bahwa di desa yang berbatasan dengan Bojanegara tersebut ada industri pembuatan topi dari bahan baku bambu. Setelah itu, usaha yang mulai dirintis pada tahun 1976 ini pun dibina oleh dinas dan mengikuti banyak kegiatan pameran.

Untuk memasarkan produknya, Wagiman fokus ke pariwisata. Ia datang ke beberapa tempat wisata di Jawa Tengah dan membagikan topinya secara gratis kepada para wisatawan. Ada yang menolak, ada pula yang menerimanya. Menangkap ada perhatian dari pengunjung terhadap produknya, pria yang lebih akrab disapa Ali ini memasarkan produknya ke sembilan tempat wisata yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta, antara lain Borobudur, Prambanan, Malioboro, Tawangmangu, dan Gembira Loka.

Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Suara Merdeka turut mengabarkan adanya kerajinan topi bambu ini. Efeknya kapasitas produksi tak mampu memenuhi pesanan. Lalu ia mengadakan pelatihan produksi kepada 30 orang dengan dana bantuan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat usahanya berjalan lancar dengan jumlah karyawan 30 orang, kabar tidak enak datang dari Yogyakarta. Gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala richter mengguncang Kota Istimewa dan sekitarnya yang mengakibatkan sedikitnya 6.000 orang meninggal. Padahal saat itu produknya banyak yang dipasarkan di lokasi gempa tersebut.

Ketika kondisi Yogyakarta agak stabil, mau masuk lagi ke pariwisata sulit karena pelaku usaha di sana sudah berbeda. Selain itu, mereka minta menggunakan sistem konsinyasi. Kita tahu bahwa dengan sistem tersebut artinya Wagiman harus memiliki modal yang cukup untuk beberapa putaran barang. Selain sistem titip jual yang agak merugikan, ternyata uang pembayaran juga banyak yang tidak lancar. Dampaknya Wagiman terpaksa memberhentikan seluruh karyawan dan sekarang hanya membuat topi seorang diri.

Saat Wagiman mulai lagi perlahan usahanya, sayang sudah jarang sekali, bahkan hampir tidak ada generasi muda yang bersedia untuk membuat topi bambu. Padahal di zaman penjajahan Belanda topi bambu sifatnya untuk kemanusiaan, membantu orang-orang yang sakit baik raganya maupun ekonominya.

Tamu VIP Memakai Topi Bambu di Acara LED Kopi

Jika kita telaah sekarang, dengan semakin banyaknya pariwisata yang tumbuh dan berkembang, pasar kerajinan topi bambu tentunya semakin luas. Banyaknya show room yang berjejer mulai Tunggara sampai Klampok juga bisa menjadi market yang menjanjikan. Itu baru wilayah Banjarnegara saja, belum lagi jika mau memasarkan ke luar kota. Apalagi kerajinan ini tidak mudah kita temukan di daerah lain. Bisa dikatakan menjadi salah satu ciri khas kabupaten yang terkenal dengan dawet ayunya ini.

Bukankah topi bambu sejatinya menjadi usaha yang memiliki prospek bagus di tengah ketatnya persaingan bekerja di perusahaan? Lalu apa yang menjadi faktor anak muda tidak mau bekerja membuat topi bambu? Gengsi karena tidak berseragam atau lebih senang merantau ke luar kota?

Come on, guys! Tanah kelahiran mu memiliki banyak sekali kearifan lokal untuk diangkat dan dikembangkan. Selain itu, industri yang mengandalkan bahan baku lokal akan mampu bertahan di tengah goncangan ekonomi global. Why? Karena industri tersebut tidak mengandalkan bahan baku impor. Semoga, akan tumbuh sumberdaya manusia baru yang terampil untuk meneruskan usaha ini.

You Might Also Like

0 comments