Tikar Pandan Sebagai Sumber Penghidupan


Tinggal di kawasan perdesaan, kerap kali membuat kita putar otak memanfaatkan sumber daya alam untuk penghidupan. Menjadi petani, pekebun, atau perajin adalah pilihan. Seperti para ibu rumah tangga di salah satu desa, di Banjarnegara, yang memilih menjadi perajin tikar pandan.
 
"Eh, beneran di Banjarnegara ada yang bikin tikar pandan?" Begitu kira-kira kalimat yang sering aku dengar setiap menceritakan keberadaan industri ini. Maklum, Banjarnegara memang bukan daerah penghasil pandan berduri. Tasikmalaya, Yogyakarta, atau Kebumen mungkin lebih familier sebagai sentra anyaman pandan bagi penikmat seni.

Respon mereka sama denganku ketika pertama kali tahu ada perajin tikar pandan di Banjarnegara. Bahkan, aku hampir nggak percaya. Sampai akhirnya, awal tahun 2018 aku datang ke balai desa setempat untuk mengonfirmasi keberadaaanya. Benar saja, ternyata sentra tikar pandan ada di desa tersebut sejak puluhan tahun lalu dan masih terjaga keasliannya.

Sekilas, keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang ini terlihat mudah. Padahal aslinya mah susah! Kalau perajin, sih, menganyam sambil nonton drama korea pasti bisa. Tapi bagi pemula, ya, jangan coba-coba. Nanti jadinya malah kaya sarang laba-laba. Haha

Lokasi Sentra Tikar Pandan 

Sentra tikar pandan berada di Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja. Sepanjang melewati jalan di empat rukun tetangga, kita akan disuguhi pemandangan berupa kumpulan daun pandan yang sedang dijemur di teras rumah warga.

Lokasinya bukan di pedalaman, sih. Hanya saja cukup jauh dari pusat kota dan akses jalannya pun kurang mendukung. Itu sebabnya keberadaan sentra ini kurang diketahui publik.


Padahal, dalam empat RT, ada sekitar 150 ibu-ibu yang rutin membuat tikar pandan. Aku kagum karena perempuan di sini tak hanya berpangku tangan. Tapi mau ambil peran demi kehidupan yang lebih mapan. Meskipun menganyam cuma sambilan, nyatanya bisa menjadi salah satu sumber penghasilan.

Bahan Baku Untuk Membuat Tikar Pandan

Perajin tikar pandan di Desa Somawangi belum menggunakan teknik pewarnaan dalam proses produksi. Warna tikar yang dihasilkan pun masih asli dari daun pandan yang telah dijemur di bawah terik matahari. Oleh karena itu, bahan baku yang digunakan hanya daun pandan berduri.

Bahan baku ini paling banyak diperoleh dari Pantai Suwuk, Kebumen, dan Pantai Widarapayung, Cilacap. Karena terbatasnya lahan tanam, maka budidaya pudak di Desa Somawangi hanya sedikit. Kalau ada yang punya lahan luas dan bingung mau dimanfaatkan untuk apa, mungkin bisa dicoba menanam pohon pandan berduri ini. Harganya lumayan, lho. Per gulung mencapai Rp80.000.

Cara Membuat Tikar Pandan 

Proses pembuatan tikar pandan serba tradisional dan menggunakan peralatan sederhana. Penjemuran daun pandannya pun hanya mengandalkan panas matahari. Oleh karenanya, saat memasuki musim hujan, para perajin sering mengalami kendala. 

Biasanya, dalam kurun waktu seminggu, satu perajin mampu membuat 5-7 lembar tikar. Itu artinya, satu sentra dapat memproduksi 750-1000 tikar per minggunya. Mantap, ya?


Yuk, langsung kita simak langkah-langkah membuat tikar pandan.
  1. Ambil tiap helai daun pandan dan buang durinya menggunakan pisau atau nilon. Masyarakat di Desa Somawangi lebih sering menggunakan nilon karena lebih mudah dan praktis.
  2. Bagi daun pandan 8-16 irisan. Jumlah irisan tergantung pada selera perajin. Semakin banyak irisan, maka semakin kecil daun pandan yang akan dianyam.
  3. Jemur daun pandan selama 2-3 hari. 
  4. Selanjutnya, daun pandan di-besut. Tujuannya agar daun pandan jadi lurus dan nggak kaku waktu dianyam. Proses ini menggunakan alat sederhana yaitu sepotong bambu kecil.
  5. Jemur kembali daun pandan selama 1-2 hari, sampai warnanya berubah menjadi beige.
  6. Anyam daun pandan menjadi tikar sesuai dengan pola dan ukuran yang diinginkan.

Harga Tikar Pandan 

Tikar ini dijual dengan harga mulai dari Rp25.000 s.d. Rp35.000 per lembar dengan ukuran 170 x 120 cm. Perajin di Desa Somawangi hanya menjualnya ke pengepul yang datang untuk membeli seminggu sekali. Sayang, ya? Coba kalau bisa berinovasi. Misal, anyaman pandannya dijadikan bahan baku berbagai kerajinan. Pasti nilai jualnya lebih mahal.

Atau mungkin anyaman pandan diubah menjadi kemasan Batik Gumelem dan Keramik Klampok. Uhh, estetis sekali. Bakal jadi kolaborasi yang ciamik dikalangan perajin Banjarnegara.

Selama ini, masyarakat Desa Somawangi memang menganyam daun pandan untuk dijadikan tikar saja. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan menjadi alasannya. Mari kita doakan semoga kedepannya produk yang dihasilkan lebih istimewa!

Bagaimanapun, sejak dulu tikar pandan telah menjadi salah satu sumber penghidupan yang tak tergerus oleh zaman.

You Might Also Like

44 komentar

  1. Untuk souvenir pernikahan bisa kali yaa, dibikin versi mini. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget, Ikk. Doain semoga usaha kerajinan pandan di sini bisa lebih baik. Jadi produknya lebih variatif.

      Hapus
  2. sebenarnya tikar pandan ini bisa dijadikan banyak souvenir loh mba, saya pernah mendapat hadiah tas yang bahannya tikar seperti ini, lucu juga loh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Mbak. Dan harganya tentu bisa lebih mahal. Cuma di sini emang masih terkendala SDM nya.

      Hapus
  3. masih ada ya ternyata pengrajin tikar pandan ini? proses pembuatannya butuh kesabaran dan keuletan. tapi harga jualnya lumayan murah yaa.. Semoga para pengrajin tikar makin sukses ya usahanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada, Mbak. Bahkan masih banyak perajinnya.

      Hapus
  4. Memang kreativitas warga luar biasa ya mbaaa
    Seneng ngelihatnya guyub ketika bersama2 bikin tikar pandan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih, Mbak. Seneng lihatnya kalau pada berkarya. Rumpi depan rumah sambil nganyam. Wkwk

      Hapus
  5. sebenarnya potensi untuk mendapatkan nilai tambah dari kerajinan tiker pandan ini banyak ya mba. Ayo dirintis mba agar ada diversifikasi produk dan inovasi supaya usaha ultra mikro ini maju

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, Mbak. Sebenernya potensial banget. Semoga kedepannya ada orang hebat yang bisa merangkul mereka. :)

      Hapus
  6. Duh, semacam gak rela tikar pandan yang udah susah payah dibikin hanya dihargai 25.000-35.00 aja lhooo, beneran harus ada inovasi yang bisa membantu mereka. Itu para desainer gak ada yang tertarik buat dibikin apa gitu yah, untuk meningkatkan nilai jual

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat banget, Mbak. Nggak rela yaa harganya murah meriah. Kaya nggak sebanding sama jerih payah pembuatannya. Semoga nanti ada yang melirik potensi ini dan mau mengembangkannya, Mbak.

      Hapus
  7. Wah jadi mengingatkan masa kecil saya nih, dulu di rumah ada tikar seperti itu.

    Tikar pandan memang lebih adem di ketimbang tikar plastik.

    apalagi kalau dibuat sebagai keterampilan.
    tinggal lebih ditingkatkan aja penjualannya.
    dan tentu saja harus disertai dengan inovasi yang lebih, agar bisa bersaing di luar sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain lebih adem, lebih ramah lingkungan juga, Mbak. Karena bahannya alami dari tumbuhan.

      Hapus
  8. Seneng banget liat pandan gede2 gitu. Moga barokah selalu rezeki dari tikar pandan ini ya

    BalasHapus
  9. Baru tahu aku ukuran pandannya yang segede itu. Dan walaupun mereka melakukannya secara sederhana tapi hasilnya bagus ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha dikira ukuran pandannya kaya daun pandan yg buat masak ya, Mbak? Iya hasilnya bagus, Mbak. Tinggal ditingkatkan supaya lebih ciamiiiikk. Hehe

      Hapus
  10. Aku lupa di mana tapi pernah lihat produksi tikar pandan. Dulu ya asyik aja buat santai pakai tikar ini. Sekarang udah jarang dipakai. Tapi pas beli peralatan buat jenazah, tikar pandan itu wajib ada. Sudah sepasang sama kain dan lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di rumah-rumah sekarang udah jarang banget yang pakai tikar pandan begini, Mbak. Paling ya emang buat jenazah gitu.

      Hapus
  11. Waduuuh, itu dijualnya murah bangeet yaaa, ga kaya membuatnya butuh perjuangan dan keterampilan tersendiri. Udah jarang tiker anyaman kek gini, mbahku punyaa di kampung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dibuat kerajinan lain biar nilai jualnya tinggi, Teh. Hehehe.

      Hapus
  12. Prosesnya lama berhari-hari. Harga jualnya murah loh. Boleh nih mba diberdayakan lagi pengrajinnya agar lebih kreatif melihat peluang. Menjadikan produknya ada nilai tambah, biar nilai jualnya lebih tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doakan semoga kedepannya bisa lebih inovatif, Mbak. :)

      Hapus
  13. Sekarang agak susah mencari tiker pandan. Kebanyakan udah yang plastik. Padahal tikar pandan tuh adem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu iya, Mbak. Di pasar kayanya udah nggak ada yang jual. Padahal lebih adem, murah, dan ramah lingkungan.

      Hapus
  14. Kagum sama ibu2 yg tetap cari kesibukan disela2 mengurus rumah tangga. Jujur saya baru tahu lho kalo daun pandan bisa jd tikar

    BalasHapus
  15. Semoga berkembang menjadi kerajinan yang lebih variatif ya mbak, supaya nilai jualnya juga meningkat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak Ella. Terima kasih doanya, ya.

      Hapus
  16. udah susah banget nyari tikar pandan kaya gini, dulu di rumah nenek punya dan baunya tuh khas banget deh mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kalau di pasaran emang udah jarang ditemui.

      Hapus
  17. Semoga tikar pandan ini bisa dipasarkan menyeluruh ke lokal bahkan internasinal ya mba.
    aku di daerahku nyari tikar pandan ini masih susah lho. Dan harnya dibanding bikinnya susah.

    BalasHapus
  18. wah yaa Allaah itu pandannya gede dan seger banget yaa.. baru tau loh aku tuh. makasih udah diinfoin yaa mbaa. kalau di desa nenekku dulu juga kadang masih gelar karpet pandan gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Nabilla. Pandannya emang besar banget. Sebesar semangat Bu Ibu untuk menganyam. Hihi.

      Hapus
  19. Wah tikar pandan. Aku pernah punya deh. Dulu waktu kecil. Ada di rumah mama. Sekarang udah jarang lihat. Kepengen punya deh buat makan bersama di taman belakang rumah. Asyik kayaknya pake tikar pandan. Nyari ah online. Di sini udah gak ada soalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihh langsung otw beli nih mantap, Mbak. Hahaha

      Hapus
  20. Bener banget, para pengrajin lebih keren lagi kalau mendapat keterampilan membuat kreasi dari tikar pandan agar niali jualnya lebih tinggi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Doakan semoga bisa lebih baik lagi kedepannya. :)

      Hapus
  21. Waah... Semoga suatu saat nanti datang seorang atau komunitas yg berhati baik, melatih para warga desa untuk membuat kerajinan yg bernilai lebih tinggi. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak Zahra. Terima kasih doanya dari Jepang! Hehe

      Hapus
  22. Twrnyata gitu ya cara membuat tikar pandan. Dibesut itu apa ya mbak? Btw kalau tikar pandan yang warna warni itu gimana proses pewarnaaannya mbak?

    BalasHapus
  23. Wah, di Banjarnegara ada sentra kerajinan tikar pandan ya? Aku selalu salut lho dengan orang-orang yang kreatif dan bisa membuat kerajinan tangan seperti ini. Apalagi kan sebenarnya tidak hanya bisa dijadikan tikar saja, banyak lho hasil kerajinan yang bisa dibuat, seperti hiasan dinding dan sebagainya. Mestinya bisa mulai diarahkan untuk ekspor mungkin ya, Mbak, sehingga harga jualnya jadi lebih tinggi

    BalasHapus