Minggu Tamasya Ke Stadion Utama Gelora Bung Karno



Jelang Pertandingan Sriwijaya FC vs Bali United


Stadion merupakan tempat yang paling sakral bagi seorang suporter sepakbola. Tempat dimana mereka dapat mengekspresikan kegembiraan, rasa cinta, amarah, dan benci. Semua orang tanpa mengenal jenjang pendidikan, status, dan pekerjaan bisa mencaci maki

Hingar bingar dan gairah muncul ketika tim kebanggaan bermain di kota yang kita tinggali. Pada tanggal 3 April 2016, Piala Bhayangkara memasuki babak final yang mempertemukan Arema dengan Persib Bandung. Piala Bhayangkara 2016 merupakan turnamen sepakbola Indonesia yang digagas oleh Kepolisian RI untuk memperingati Hari Jadi Bhayangkara  ke-70. Arema dan Persib berhasil melaju ke babak final setelah mengalahkan Sriwijaya FC dan juga Bali United masing-masing dengan skor 1-0.

Partai final diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karni (SUGBK) pada malam hari, sedangkan perebutan tempat ketiga dilaksankan pada sore hari waktu setempat. Sebagai Aremanita dan juga anak rantau yang tinggal di Jakarta tentunya saya sangat gembira tim kebanggaan sampai pada partai puncak turnamen yang dipromotori oleh Gelora Trisula Semesta ini. Apalagi jarak tempat tinggal dengan SUGBK hanya 15 kilometer.

Saya dan teman-teman berangkat ke SUGBK sekitar pukul 11.00 WIB. Saat kendaraan memasuki pintu 10, warna biru sudah mendominasi halaman luar stadion. Para pedagang atribut sudah berjejer menawarkan jersey, syal, kaos, dan topi dengan berbagai harga. Sayup-sayup nyanyian Aremania terdengar dengan jelas di sekitar Masjid Al-Bina.

“Arema...Arema...kita disini Arema... Arema...Arema...kita disini Arema...”

Aremania dari berbagai daerah datang ke SUGBK untuk mendukung tim kebanggannya. Mereka berkumpul di sektor X karena suporter Singo Edan ini ditempatkan di tribun selatan oleh panitia penyelenggara. “Ternyata begini atmosfer final!” ujar saya dalam hati.

Dari dekat, tampak dengan lahap beberapa Aremania sedang makan nasi bungkus bersama. Sederhana memang, tapi menyenangkan karena dibalut rasa “satu jiwa”. Sebagian lainnya sedang melakukan “pemanasan” dengan menyanyikan yel-yel Arema. Ada yang masih sibuk mencari tiket sementara beberapa mencari teman yang sudah janjian lewat dunia maya.

Pukul 14.00 WIB antrian panjang sudah mulai terjadi di depan pintu masuk stadion. Yel-yel Aremania dan juga suara terompet di dalam stadion mulai terdengar. Padahal kick off Arema vs Persib baru akan dimulai pukul 20.30 WIB. Memang pada waktu itu tiket dari panitia merupakan tiket terusan sehingga penonton bisa menyaksikan dua pertandingan sekaligus. Sore hari sekitar pukul 14.30 WIB, saya sudah berada di tribun selatan SUGBK. Para pemain Bali United dan Sriwijaya FC sedang melakukan pemanasan jelang pertandingan yang memperebutkan posisi ketiga. Suporter Sriwijaya FC nampak berada di tribun selatan sedangkan suporter Bali United di tribun utara. Jumlah mereka tidak terlalu banyak karena jarak home base keduanya dengan Jakarta cukup jauh.

Para penabuh bass drum mulai memasuki stadion dan serentak Aremania berdiri untuk memberikan tepuk tangan tanda ucapan selamat datang. Setelah pertandingan Sriwijaya FC kontra Bali United selesai, Aremania mulai bernyanyi dan bergoyang di atas tribun dengan menyanyikan lagu “Salam Satu Jiwa” yang diikuti gerakan tangan secara serentak. Itu ciri khas Aremania! Biasanya saya hanya menyaksikan lewat layar televisi, mencoba ikut merasakan atmosfer di tribun ketika pembawa acara mewawancarai salah satu suporter di dalam stadion. Tapi waktu itu, 3 April 2016 saya merasakan langsung atmosfer di atas tribun!



Saya Bersama Dwi Ftri dan Rahmad Hidayat


Bagi para pembaca yang belum pernah mendukung klub kebanggaannya secara langsung di stadion, cobalah sekali-kali. Rasa emosional sungguh berlipat ganda ketika di atas tribun. Saya merinding ketika menyanyikan lagu Salam Satu Jiwa bersama Aremania yang lain. Hati saya bergetar ketika lirik “Janji sumpah setia, Arema selamanya” dengan jelas mereka ucapkan. Kalimat itu sederhana, tapi sangat dalam maknanya. Kamu tidak akan tahu arti slogan “Arema Surga Duniaku”, atau “Without Arema You’re Nothing” tanpa menjadi bagian dari Arema dan tanpa membaur dengan Aremania.

Sesama Aremania belum tentu saling mengenal, tetapi di atas tribun kami saling berpegang pundak, membelakangi lapangan sambil bernyanyi. Bersama-sama mengibarkan bendera merah putih dengan risiko tidak bisa melihat pertandingan di lapangan. Itu sangat menyenangkan.

Saya nonton sepakbola langsung di stadion tidak pernah melihat gol yang terjadi, termasuk 2 gol Arema kala itu ke gawang Persib yang mengantarkan klub dari Malang itu menjadi kampiun Piala Bhayangkara 2016. Pemain yang mencetak gol bahkan kadang tidak tahu. Kenapa? Banyak hal-hal “baru” yang menjadi perhatian, terutama perilaku suporter yang tidak pernah tertangkap kamera. Pada saat itu perhatian saya tertuju pada pasangan suami istri tepat di depan mata yang membawa anak balitanya ke SUGBK. Sepertinya usia anak tersebut kurang dari dua tahun. Tidak hanya satu anak yang dibawa, tapi ada dua lagi yang usianya masih di bawah 10 tahun. Betapa ribetnya pasutri ini selama pertandingan. Apalagi kondisi tribun yang penuh membuat suhu menjadi panas dan anaknya mulai rewel. Sambil kipas-kipas sepanjang pertandingan dan sesekali anak balita laki-laki itu diajak bernyanyi mendukung Arema. Stadion memang aman bagi siapapun sehingga keluarga tersebut memilih untuk “bertamasya” mengahabiskan hari Minggunya mendukung Arema.

Di sela-sela pertandingan, saya sempat kaget ketika membeli air mineral harganya Rp10.000 per kemasan 600 ml. Biasanya di warung harganya hanya Rp3.000. Wow! 3 kali lipat! Harga tiga kali lipat dan airnya dituang ke plastik hahaha. Beli air sepuluh ribu rupiah tanpa botol hehe. Apakah kamu pernah mengalami?


Datang ke stadion membuat kita paham bahwa tidak semua dari mereka yang suka “nribun” adalah orang “berduit”. Yang pasti, dalam keterbatasan finansial, jika atributmu sama dengan mereka, maka kamu tidak akan kelaparan di stadion.

Atas dasar kecintaan terhadap sepakbola, mari kita jaga kerukunan dalam Bhinneka Tunggal Ika agar stadion menjadi tempat yang nyaman bagi siapapun. Tidak hanya nyaman untuk pria, tapi juga untuk wanita, anak-anak, bahkan penyandang disabilitas. Salam Satu Jiwa!

You Might Also Like

0 komentar