Pilu Perajin Batik Gumelem


Batik Tulis Gumelem Motif Parang Kusumo

Setiap memasuki gapura bertuliskan "Desa Batik Gumelem Banjarnegara", saya disambut pemandangan berupa deretan sawah dan bukit yang memesona. Seakan-akan keindahan panorama ini menggambarkan kemakmuran masyarakat Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon. Dua sampai tiga kilometer dari gapura tersebut, kita akan menjumpai beberapa teras rumah yang berasap. Bukan sedang ada acara demo masak. Ibu-ibu dengan rambut yang mulai memutih sedang memainkan canting.

Lantas, sajian pemandangan yang indah itu apakah menggambarkan kesejahteraan para perajin batik? 

Pembatik di Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon mayoritas adalah wanita paruh baya. Hanya sedikit anak muda yang ambil peran. Karena mereka lebih memilih untuk kerja kantoran. Para perajin terampil meniup lubang canting. Menggoreskan lilin pada kain. Berharap setelah menjadi batik, mereka bisa segera memperoleh rupiah pengganti jerih payah. Tumpukan kain semakin banyak di lemari menunggu sang pembeli. Sayangnya, masyarakat lebih memilih membeli kain motif batik yang harganya jauh lebih murah.


Perajin Batik Desa Gumelem Kulon

Baju motif batik yang biasa Anda beli di pasar dengan harga ekonomis dan warnanya luntur itu, bukanlah baju batik. Maksudnya bagaimana? Kita tahu bahwa batik adalah kain bergambar yang pembuatannya dilakukan dengan menuliskan malam pada kain. Sedangkan yang kita jumpai di pasaran dibuat menggunakan mesin printing atau screen rakel. Artinya, kain tidak terkena malam sehingga disebut kain motif batik.

Kembali ke topik tentang kesejahteraan pembatik. Saya pernah mewawancarai perajin di Desa Gumelem Kulon. Upah membatik tulis adalah Rp30.000 s.d. Rp70.000 per lembar. Padahal, proses pengerjaannya tiga sampai tujuh hari. Tergantung kerumitan motif. Maka bisa dihitung, berapa upah per harinya? Miris bukan?

Upah yang sangat minim itu bukan tanpa alasan. Umumnya, konsumen hanya mau membeli batik dengan harga murah. Banyak orang yang menganggap batik tulis Gumelem harga Rp300.000 sangat mahal. Mungkin mereka belum pernah merasakan bibirnya terkena malam panas saat meniup canting. Atau matanya berair karena asap kayu bakar yang digunakan untuk melelehkan malam.

Proses pembuatan selembar kain batik yang lama dan rumit memang harus kita hargai dengan mahal. Juga kreativitas motif yang diciptakan oleh perajin. Karena tidak banyak orang yang mau mempelajarinya. Tak banyak pula mereka yang telaten untuk mengerjakannya.

Saya sedih ketika melihat orang yang mampu secara ekonomi, namun membeli batik printing. Rasanya lebih pedih daripada ditanya kapan menikah.

Batik Tulis Gumelem Motif Candi

Batik tulis, cap, maupun kombinasi keduanya, merupakan batik asli yang wajib kita lestarikan. Dengan cara apa? Membeli, memakai, memberi masukan untuk perbaikan, dan mempromosikannya. Jangan bangga mengatakan "Saya mencintai budaya Indonesia" tapi tak memakai batik asli, ya.

Di Gumelem, kendala utama perajin adalah perihal pemasaran. Mereka sangat berharap penjualan batiknya dari Aparatur Sipil Negara (ASN). Setiap hari Rabu dan Kamis, ASN di Banjarnegara memang diwajibkan memakai batik. Maka, saya akan sangat bersyukur jika pemimpin di kota kelahiran ini berkenan menerbitkan peraturan tentang kewajiban untuk mengenakan batik Gumelem di hari tersebut.

Kementerian Perindustrian meliris data ekspor batik Nusantara yang mencapai nilai Rp734 miliar pada tahun 2018. Artinya, pasar mancanegara memberikan respon positif terhadap produk tersebut. Apalagi Indonesia menjadi market leader dalam industri batik. Warga negara asing saja bangga berbusana batik asli, masa pribumi lebih memilih yang imitasi.

Selamat Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2019. Dari saya yang mencintai batik lahir dan batin. 

You Might Also Like

27 comments

  1. agak sulit gak sih mba membedakan batik asli sama printing? hehe..
    kalau batik asli jelas lebih mahal ya harganya, krn proses pembuatannya itu butuh effort banget kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau batik asli itu ada bau khas dari lilin/malam, Mbak. Betul, harganya lebih mahal. Hehe

      Hapus
  2. saya sepakat mba. Saya juga menghindari batik printing dan prefer menabung untuk bisa membelibatik dan juga tenun yang harganya tidak murah tapi sangat cantik dan menmiliki nilai artisitik tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uwwww, mantaaappp, Mbak. Yuk, bareng-bareng kita lestarikan batik asli. :)

      Hapus
  3. Wah bagus sekali hasil batik tulisnya. Perlu kesabaran dan ketelatenan untuk bisa membatik seperti ini. Aku juga suka batik, apalagi sekarang banyak model dan motifnya bagus-bagus semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar banget, Mbak. Karena prosesnya lama. Iya sekarang batik banyak motif yang kekinian juga. Nggak melulu batik klasik. Hehe

      Hapus
  4. Semoga perajin batik di Gumelem bisa lebih dan semakin sejahtera lagi. Sekarang dilematis ya profesi/posisi mereka.

    BalasHapus
  5. Mbak, jadi sedih bacanya. :(

    Tangan-tangan terampil itu adalah aset mahal negeri ini. Dari tangan merekalah batik bisa terus lestari. Semoga kesejahteraan mereka bisa meningkat seiring dengan bertambahnya para peminat batik tulis. Aamiin.

    BalasHapus
  6. Batik yang dibuat langsung oleh tangan memang harganya lebih mahal, tapi hasilnya bagus banget, dan kita juga bisa mengapresiasi para pengrajinnya yaaa, bagus banget hasilnyaa

    BalasHapus
  7. Masalahnya memang daya beli masyarakat yg makin menurun jadi beli batik yang printing akhirnya walau kualitas dan tampilannya masih di bawah batik yg dibuat langsung tapi beneran jadi pilihan alternatif untuk tetap bisa berbatk...hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe aku biasanya malah nabung dulu buat beli batik tulis, Mbak.

      Hapus
  8. Saya baru tahun kalau di Banjarnegara juga ada pengrajin batik mbak. Wah ternyata utk perajinnya sendiri biaya kerjanya gk besar ya :(
    Kalau batiknya dipakai utk bahan kerajinan lain seperti lukisan dinding, tas, dll selain baju apkah sdh dicoba di sana mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dicoba, Mbak. Ada dibuat tas, ikat kepala, masker, dll.

      Hapus
  9. Masya Allah..cantik sekali batik tulis gumelem motif candinya. Suka euy. Pilihan warnanya juga bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuuiii, Mbak. Bikin pengin meminang, yaa. Haha

      Hapus
  10. Wuih cantik bangeeet batik Gumelem inj. Aku baru tahu deh dengan jenis batik ini. Semoga ya, perhatian pemerintah, dan dukungan masyarakat bisa mensejahterakan para pebatik Gumelem ini.

    BalasHapus
  11. Nenekku dulu bikin batik sendiri juga.. Dan memang setiap motif dan Kain memiliki filosofinya masing-masing.

    Sungguhan yaah..harga batik tulis ini gak boleh di bawah standart.
    Karena prosesnya amat panjang dan lamaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awww mantap. Perajin batik juga ternyata nenek Mbak Lendy. Iya, Mbak. Harga harus sesuai dengan keringatnya. Hehe

      Hapus
  12. Aku jadi sedih tahu fee harian buruh pembatik :( semakin termotivasi buat beli kain batik yang memang beneran batik, bukan sekedar prrint motif batik ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uhuyyyy. Mari kita budayakan beli batik tulis/cap, Mbak!

      Hapus
  13. mertuaku juga di banjarnegara, mba, dan dua pekan lalu aku habis dari sana. cuma aku ngga smepat mampir ke banyak tempat termasuk ke tempat batik gumelem ini. sayang banget deh.. semoga kapan2 kalau ke banjarnegara lagi bisa mampir biar tau langsung prosesnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajib banget ke Gumelem kalau main ke sini lagi, Mbak Nabilla.

      Hapus
  14. Batik tulis kan memang mahal setahu saya mbak. Apakah upah untuk batik tulis dan batik cap disamakan? Hiks sedih kalau disamakan

    BalasHapus