Seperempat Abad Program Langit Biru, Sudahkah Terasa Dampaknya?

Program Langit Biru
Langit Biru dari Jendela Rumah di Desa

Apa yang dapat kamu bayangkan dari kehidupan orang di kota? Mewah, instan, serba ada? Atau macet, panas, dan polusi udara? Ya, semua itu dapat dirasakan jika tinggal di kota besar. 

Saya pernah merasakan panasnya kehidupan Kota Jakarta karena polusi udara selama tiga tahun. Tinggal di pemukiman yang padat, setiap membuka jendela bukan hijaunya pepohonan yang dilihat. Atap rumah tetangga dan deretan gedung yang menjulang tinggi adalah pemandangan sehari-hari. Perjalanan ke kampus pun selalu ditemani hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang sedang berlomba untuk sampai di lokasi tepat waktu. Sungguh bikin penat dan dada sesak. 
 
Berkurangnya lahan hijau, padatnya penduduk, bertambahnya jumlah industri, dan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor menjadikan masyarakat Jakarta sulit untuk mendapatkan kualitas udara yang baik. Padahal, udara menjadi salah satu sumber kehidupan yang tak tergantikan. Udara segar mengandung oksigen yang baik bagi keberlangsungan metabolisme tubuh. Lalu, apa sebenarnya penyumbang terbesar penyebab polusi udara di Jakarta? 

Menurut Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, sumber pencemaran udara di kota tersebut 75% berasal dari asap kendaraan bermotor. Pantas saja itu terjadi karena jumlah kendaraan setiap tahun selalu meningkat. Dinas Perhubungan setempat mencatat terjadi kenaikan sebanyak 565.324 unit kendaraan dari tahun 2017 ke tahun 2019. Meski banyak tersedia moda transportasi umum, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dengan dalih lebih efektif dalam menunjang mobilisasi.

Tiga hari yang lalu, tepatnya tanggal 18 Maret 2021, pukul 13.00 WIB, kualitas udara Jakarta terpantau nomor 3 paling buruk di dunia. Situs IQAir menunjukkan bahwa indeks kualitas udara menyentuh angka 173. Itu artinya kualitas udara masuk kategori tidak sehat yang dapat merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ini bukan kejadian yang pertama kali. Pertengahan tahun 2019 tagar #SetorFotoPolusi sempat ramai digunakan oleh warganet di twitter sebagai bentuk protes terhadap buruknya kualitas udara Jakarta saat itu. Protes di media sosial menjadi percuma kalau kamu masih berkontribusi menimbulkan pencemaran udara.

Program Langit Biru
Kualitas Udara di 46 Kota di Indonesia

Saya pun penasaran bagaimana kualitas udara Jakarta dan kota-kota besar Jumat lalu? Hasil pengamatan saya terhadap kualitas udara di 46 kota besar di Indonesia melalui aplikasi ISPUNet pada hari Jumat, 19 Maret 2021, pukul 17.00 WIB, menunjukkan 54% (25 kota) memiliki kualitas udara baik, 39% (18 kota) kualitas udara sedang, dan 7% (3 kota) nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tidak valid. Jenis polutan yang diukur yaitu PM2.5, PM10, CO, HC, NO2, O3, dan SO2. Sebanyak 18 kota menunjukan nilai sedang (50-100) termasuk Jakarta, yang artinya kualitas udara masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Tentunya kita berharap kualitas udara bukan berada di level sedang, tapi di level baik (0-50) sehingga tidak memberikan efek negatif terhadap makhluk hidup. Hasil ini dapat berubah sewaktu-waktu jika kita tidak mengendalikan faktor-faktor penyebab pencemaran udara.

Presiden Joko Widodo pada Desember 2015 telah menandatangani Paris Protocol untuk berkomitmen menurunkan gas rumah kaca pada tahun 2030 sebesar 29-41%. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan peranan dari seluruh stakeholder dan masyarakat Indonesia, utamanya dalam menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan yaitu minimal RON 91 dan CN 51.

Jauh sebelum itu, tepatnya 25 tahun lalu, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Lingkungan Hidup telah membuat program pengendalian pencemaran udara yang bernama Langit Biru. Program ini dicanangkan sejak 6 Agustus 1996 untuk menangani pencemaran udara khususnya yang bersumber dari sektor transportasi. Tujuannya, agar tercapai kualitas udara yang baik dan sesuai dengan standar kesehatan manusia serta makhluk hidup lain. Upaya pengendalian dilakukan dengan cara menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, memantau emisi gas buang pada kendaraan bermotor, mengubah standar mesin kendaraan, memasang alat pembersih polutan pada kendaraan, serta mengembangkan manajemen transportasi. Sayangnya, program langit biru belum terasa dampaknya hingga saat ini, terutama di kota-kota besar.

Program Langit Biru
Diskusi Publik Program Langit Biru KBR x YLKI

Atas dasar itulah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama Kantor Berita Radio (KBR) menyelenggarakan diskusi keempat pada Kamis, 18 Maret 2021, dengan tema "Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru." Diskusi diikuti oleh 133 peserta yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, PT Pertamina, pengamat ekonomi, dinas-dinas dari daerah yang membidangi, influencer, rekan media, blogger, dan mahasiswa. Ini merupakan salah satu bentuk edukasi, sosialisasi, dan upaya mencari solusi yang tepat guna agar program langit biru bukan sekadar wacana yang tak jelas bentuk konsistensinya. Mengapa tidak konsisten? Kamu akan menemukan jawabannya setelah membaca tulisan ini sampai selesai. 


Jenis BBM Kategori Bensin di Indonesia

Program Langit Biru
Jenis BBM Kategori Bensin di Indonesia

Sampai saat ini, di Indonesia masih terdapat 4 jenis BBM kategori bensin yang dijual di SPBU. Di negara lain, umumnya hanya terdapat 2-3 jenis BBM saja. Mutu dari masing-masing jenis bensin dihitung dari nilai Research Octan Number (RON). Semakin tinggi nilai RON maka semakin baik pula kualitas BBM bagi kendaraan itu sendiri, bagi kesehatan, dan lingkungan. Keempat jenis bensin tersebut sebagai berikut.

  • RON 88 (Premium). Bahan bakar jenis Premium dapat digunakan pada kendaraan bermotor dengan risiko kompresi rendah (di bawah 9:1). Premium diproduksi sesuai dengan Keputusan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 3674/K24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 tentang Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 88.
  • RON 90 (Pertalite). Bahan bakar gasoline yang memiliki angka oktan 90 ini cocok digunakan pada kendaraan dengan kompresi mesin 9:1 s.d. 10:1. Pertalite hadir agar masyarakat dapat merasakan manfaat menggunakan BBM dengan RON lebih tinggi dari 88 namun harga tetap terjangkau.
  • RON 92 (Pertamax). BBM jenis ini paling direkomendasikan untuk digunakan sehari-hari karena memiliki angka oktan yang tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna dan tidak meninggalkan residu. Selain itu, zat aditif dalam Pertamax juga mampu membersihkan endapan kotoran pada mesin sehingga mesin lebih awet, tidak mudah berkarat, dan penggunaan bahan bakar lebih irit.
  • RON 98 (Pertamax Turbo). Kandungan sulfur pada Pertamax Turbo di bawah 50 ppm atau sesuai standar EURO 4. Kendaraan jenis sport dan sedan, serta kendaraan dengan teknologi turbo charger cocok menggunakan BBM jenis ini.

Kamu biasanya menggunakan jenis bensin apa untuk kendaraan pribadi di rumah? Pertamax, Pertalite, atau jangan-jangan Premium? Sudah tahu kalau dari keempat jenis BBM tersebut ada yang tidak ramah lingkungan?


Penggunaan BBM Tak Ramah Lingkungan 

Siapa yang masih suka pakai Premium untuk kendaraan pribadi? Hayoo ngaku! Di kabupaten tempat saya tinggal saat ini, pembelian Premium dibatasi hanya pada jam-jam tertentu. Meski begitu, beberapa orang yang memakai kendaraan pribadi maupun transportasi umum masih rela antri pada waktu tertentu itu untuk mendapatkan bahan bakar dengan harga murah. 

Pengguna BBM dengan RON 88 atau yang biasa kita kenal dengan Premium hanya tersisa 7 negara saja di dunia, termasuk Indonesia. Keenam negara lainnya adalah Bangladesh, Colombia, Mesir, Uzbekistan, Mongolia, dan Ukraina. Bicara tentang lingkungan, seluruh dunia sebenarnya telah sepakat untuk menjaga ambang batas emisi karbon dan mencegah polusi udara dengan menggunakan BBM minimal RON 91 dan CN 51. 

Mengapa Indonesia masih menjual Premium? Tahun 2014 Presiden Jokowi pernah menerbitkan Perpres 191/2014 yang isinya mencabut subsidi Premium dan membatasi distribusinya di Jawa, Madura, dan Bali. Namun, lagi-lagi pemerintah inkonsisten. Menjelang Idulfitri 2018 dan Pemilu 2019, Perpres tersebut direvisi dan Pertamina harus kembali mendistribusikan Premium ke seluruh wilayah. Alasannya karena ingin menjaga daya beli masyarakat melalui BBM harga murah.

Apa yang terjadi setelah itu? Dilansir dari situs Kontan, penggunaan Premium pun mengalami kenaikan antara tahun 2018-2019. Tahun 2018 penggunaan Premium secara nasional mencapai 31,3% dari penggunaan BBM secara keseluruhan. Kemudian tahun 2019 naik menjadi 33,3%. Masyarakat kalau dikasih pilihan beli yang mahal atau murah, ya, pasti tetap pilih yang lebih murah. Tinggal dari pemerintahnya saja yang harus tegas terkait regulasi. Kalau memang tidak ramah lingkungan, hapus sekalian. 

Saya sependapat dengan pernyataan Thamzil Thahir dalam diskusi kemarin. "Kalau nggak ada Premium dan Pertalite, masyarakat pasti akan membeli Pertamax. Karena memang butuh bahan bakar," ucapnya. Hal tersebut dibuktikan dengan realita di perdesaan. Saat ini Pertamini hanya diperbolehkan menjual bensin jenis Pertamax. Meski harga per liternya mencapai Rp10.000, masyarakat tetap banyak yang membelinya, kok.  Pernah saya tanya ke mereka "Kenapa mau beli Pertamax dengan harga segitu?" Jawabannya karena butuh. Malas jauh-jauh ke SPBU buat beli Pertalite/Premium. Artinya apa? Semua memang harus dengan paksaan! Toh lama-lama akan menjadi kebiasaan.

Kembali lagi soal Premium. Selain tidak ramah lingkungan, Premium tidak lagi cocok digunakan di kendaraan keluaran baru. Saat ini, produksi kendaraan pada industri otomotif memiliki standar penggunaan BBM EURO 4 atau dengan RON di atas 91 dan kadar sulfur maksimal 50 ppm. Kendaraan keluaran tahun 2000-an pun idealnya menggunakan BBM minimal RON 92. Penggunaan Premium pada kendaraan yang tidak sesuai dengan kompresi mesin lama-kelamaan akan merusak mesin itu sendiri. Selain itu, emisi yang dihasilkan pun akan semakin tinggi. 

Secara kasat mata, harga Premium memang paling murah untuk BBM jenis bensin. Namun jarak tempuh pada kendaraan lebih sedikit. Hal ini diungkapkan oleh Tulus Abadi dari YLKI saat diskusi publik 4 berlangsung. Jadi jatuhnya bukan irit, tapi malah boros. Boros karena harus berkali-kali isi Premium dan sering service kendaraan. 

Penggunaan BBM beroktan rendah (RON 88) juga berdampak pada kesehatan. Polutan yang dihasilkan dapat memicu penyakit pada saluran pernapasan seperti asma dan kanker paru-paru. Menggunakan BBM yang tidak ramah lingkungan tanpa kita sadari telah membunuh makhluk hidup secara perlahan. 


Bahaya Gas Buang Kendaraan Bermotor Bagi Kesehatan

Program Langit Biru
Gas buang kendaraan berasal dari sisa pembakaran yang dikeluarkan melalui knalpot. Gas ini mengandung zat-zat berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan bahkan menyebabkan kematian. Lalu, apa saja zat berbahaya tersebut?

Pertama, ada karbon monoksida (CO). Pernah merasa sesak napas, mual, atau pusing saat berada di area yang padat kendaraan? Hal tersebut disebabkan karena gas CO yang terlepas dan menjadi polutan terhirup oleh tubuh. Masuknya gas yang tidak berbau dan berwarna ini akan menurunkan kadar oksigen dalam tubuh yang dapat memicu sesak napas dan kerusakan pada otak. Pada ibu hamil, kekurangan oksigen dapat menyebabkan bayi lahir prematur. Bahkan menghirup karbon monoksida pada kadar tertentu dapat menyebabkan kematian.

Kedua, adalah hidrokarbon (HC) yang berasal dari pembakaran tak sempurna. Reaksi HC di udara yang membentuk ikatan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), jika masuk ke paru-paru dapat merangsang pertumbuhan sel kanker. Dikabarkan oleh Medical News Today, sampai saat ini belum ada obat atau terapi yang dapat menjamin kanker sembuh total dan tidak kambuh lagi. Kalau begitu, lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

Ketiga, karbon dioksida (CO2). Banyaknya CO2 di udara jika tidak diimbangi dengan jumlah pohon hijau akan menyebabkan pemanasan global. Karena CO2 tidak diubah menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Perubahan iklim akibat pemanasan global inilah yang menyebabkan konsentrasi ozon meningkat. Seperti yang kita ketahui, ozon berbahaya bagi paru-paru. Naiknya suhu udara karena global warming juga menjadi pemicu tingginya curah hujan. Akibatnya, jentik-jentik nyamuk mudah berkembang biak pada genangan air dan membuat masyarakat terkena penyakit malaria atau demam berdarah.

Keempat adalah nitrogen oksida (NOx). Senyawa ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas pada penderita asma, batuk pada anak dan orang tua, serta gangguan sistem pernapasan lainnya.

Kelima, partikulat. Ini merupakan bentuk polusi udara paling nyata yang dapat dilihat dari kabut yang menyelimuti kota. Partikulat yang penting bagi makhluk hidup adalah PM10 dan PM2.5. Jika partikulat terhirup akan menyebabkan gangguan pernapasan dan kerusakan pada paru-paru. Studi kesehatan juga menunjukkan bahwa partikulat dapat memperburuk penyakit jantung.

Sehat memang mahal. Lebih mahal daripada harga kendaraan. Sayangnya, masih banyak yang tidak peduli dan tetap menggunakan bahan bakar tak ramah lingkungan.


Bentuk Kepedulian Terhadap Lingkungan Agar Langit Tetap Biru 

Program Langit Biru
Bentuk Kepedulian Terhadap Lingkungan Agar Langit Tetap Biru

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 7 juta kasus kematian setiap tahunnya diakibatkan oleh pencemaran udara. Mulai saat ini, kita harus peduli terhadap lingkungan dimulai dari hal-hal kecil. Tak perlu menunggu pemerintah 'memaksa', mulai saja dulu sebisanya. Upaya mengurangi pencemaran udara yang dapat dilakukan secara mandiri antara lain.

Bijak Dalam Menggunakan Kendaraan Bermotor
Sudah dijelaskan di atas bahwa sumber utama polusi udara berasal dari asap kendaraan bermotor. Untuk itu, kita harus bijak dalam menggunakannya. Pertama, pakai BBM dengan RON minimal 91. Dilihat dari segi harga Pertamax memang lebih mahal, tapi dari sisi pemakaian lebih unggul. Istilahnya, kalah beli tapi menang pakai. Apalagi Pertamina sering memberikan promo pembelian Pertamax melalui aplikasi My Pertamina. Yuk, dicoba dulu dan rasakan manfaatnya. 

Kedua, gunakan kendaraan roda 4 untuk beberapa orang. Bayangkan jika satu mobil pribadi hanya dipakai satu orang. Bagaimana padatnya jumlah kendaraan di jalanan dan polutan yang dihasilkan? Maka jadilah bijak dalam berkendara. Ketiga, gunakan transportasi publik jika masih memungkinkan. Keempat, jalan kaki saja ketika bepergian ke tempat yang dekat. Tidak perlu manja, karena bumi ini butuh kasih sayang lebih dari kita!
 
Menanam Pohon
Pohon merupakan penyaring udara di bumi. Polusi udara yang dihasilkan oleh asap kendaraan dapat diserap oleh pohon dan dikeluarkan lagi dalam bentuk oksigen yang dapat membantu kita bernapas. Semakin banyak pohon yang ditanam dapat membuat kualitas udara semakin segar. Menanam pohon juga dapat mengurangi dampak perubahan iklim yang diakibatkan oleh banyaknya karbon dioksida di udara.

Hemat Energi Listrik
Kenapa harus menghemat listrik? Apa hubungannya dengan polusi udara? Listrik dihasilkan dari berbagai sumber antara lain minyak dan batu bara. Dalam prosesnya terjadi pelepasan ozon dan sulfur dioksida di permukaan tanah. Hal ini tentunya dapat mencemari udara. Oleh karena itu, matikan listrik jika tidak dipakai.
 
Tidak Membakar Sampah
Suka bingung mau dibuang ke mana sampah rumah tangga? Akhirnya memilih jalan untuk membakarnya saja. Padahal, kandungan bahan kimia dalam sampah berpotensi mencemari udara. Solusinya adalah, kurangi penggunaan plastik. Lalu, lakukan daur ulang dengan memanfaatkan kembali sampah seperti botol plastik dan kaleng. Untuk sampah organik dapat digunakan sebagai pupuk. Sisa-sisa makanan dapat digunakan untuk makanan hewan piaraan.

Seperempat abad Program Langit Biru telah berjalan, namun belum dirasakan dampaknya sampai sekarang. Jika kita telah terbiasa melakukan empat hal di atas, bukan hal mustahil Program Langit Biru akan terasa dampaknya bagi kehidupan, baik di masa sekarang maupun yang akan datang.

You Might Also Like

26 komentar

  1. Terima Kasih sudah menulis tentang ini sovi 😊. Kalo aku mah gak di Jakarta gak Di Kalimantan sama aja hidupnya di Kota jarang liat pemandangan yang menyegarkan dan pepohonan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyakin tanam pohon depan rumah, Des. Biar udaranya lebih seger. Dan pastinya, jangan lupa pakai BBM yang ramah lingkungan. Hehe

      Hapus
  2. Di depan tempat tinggal kami tuh menyedihkan, masih aja sering orang bakar sampah, yang nyebelin itu, mereka bakar sampah plastik juga, ya ampun sebal banget, kasian anak-anak juga menghirup udara pembakaran gitu.
    Tapi ga bisa apa-apa, karena RTnya juga diam aja.

    Seharusnya nih digalakan no bakar-bakar gitu, kan bisa dibikin kompos atau semacamnya, dan memilah sampah dengan benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang solusinya harus kurangin penggunaan plastik, ya, Mbak. Belanja ke mana-mana pakai totebag aja. Karena menurut sebagian orang solusi buat mengatasi sampah plastik dengan dibakar. Padahal asapnya kan mencemari udara. Kalau penggunaan plastik dikendalikan, jadinya no bakar-bakar lagi.

      Hapus
  3. Baru tau saya ada program langit biru. Terimakasih tulisannya sangat bermanfaat.

    Bangga loh saya pengguna setia pertamax wkwk ga salah pilih emang. Kalo soal pake kendaraan pribadi wajib saya mah gpp lah ya tinggal di desa juga masih hijau2.
    Hehe pentingkan pertamax 92.

    Soal bakar sampah..dari dulu dibakar terus. Saya punya cerpen dikit nih jadi pernah ngobrol sama orang asing saya sebutin aja Aussie, dia nanya lagi ngapain? Lagi nyalain api saya bilang. Pake apa katanya? Pake kresek, saya bilang. Lah auto diceramahin saya, "ga bagus racun itu ke udara nyebar blablablah". Saya cuek aja dalam hati cuma dikit juga. Terus saya tanya balik "lah emang situ nyalain api pake apa?" Dia bilang pake kertas2, ranting2 kecil gitu. Habis baca blog ini, berasa kena tampol saya. STOP BAKAR SAMPAHHHH!!

    Sekarang harus bikin dua tempat sampah nih yang organik bisa buang belakang rumah aja yang non minta petugas angkutin/kasih tukang rongsokan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasih tau ke teman-teman juga kalau ada program Langit Biru, ya, Va. Haha

      Manteeppp banget emang tanpa disuruh pun udah jadi pengguna setia Pertamax. Kalau beli Pertamax pakai aplikasi My Pertamina bisa dapet diskon, loh. Lumayan, kan?

      Bakar sampah apalagi jenis plastik meskipun dikit-dikit, lama-kelamaan juga bisa jadi bukit. Sedikit banyak tetep aja namanya berkontribusi mencemari udara. :(

      Hapus
  4. Waktu masih di Jakarta, pemandangan di malam hari bukan lagi melihat bintang2 bertebaran. Tapi melihat langit yang warnanya semu kemerahan. Itu sedikit tanda kalau udara di Jakarta udah ngga beres. Yuk, kita perbaiki lagi gaya hidup kita. Biar udaranya membaik, sehat kembali. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa lihat bintang di langit Jakarta adalah sebuah keajaiban. Jadi ingat waktu itu aku sama teman-teman di kos girang banget gara-gara lihat bintang, meskipun cuma dikit wkwk.

      Hapus
  5. Wahh mantap sih, rangorang yg masih suka nyari BBM dg harga murah, kudu baca ini sih biar kebuka pikirannya. Apalagi skrg banyak bgt bocah2 pake kendaraan bermotor yg di modif pke knalpot berisik sampe asapnya ngebul, dan rata2 karna masih bocah uang masih nadah orang tua kuyakin pake BBM yg RON nya rendah. Jd dobel power dah polusi jahatnya, knalpot ngebul pake BBM RON rendah lagi. Aduh pusingg.
    Terimakasih sovi udh nulis ini, membantu sekali jadi tau banyak. Hehe. Sukses terus ya mba sovi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nahh ini knalpot yang bikin berisik itu nggak cuma bikin polusi udara, tapi juga polusi suara. :(

      Hapus
  6. Duh aku jadi oenasaran juga nih bagaimana ukuran kualitas udara di kota kecilku ya? Semoga prigram langit biru ini bisa berhasil ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Aku juga penasaran. Sayangnya belum bisa diukur pakai aplikasi ISPUNet, nih. Soalnya baru bisa buat kota-kota besar aja.

      Hapus
  7. Sudah waktunya kita makin concern dan semangat berkontribusi demi planet Bumi yg makin nyaman dihuni. Langit BIRU pastinya kita semua cintaaa
    Yuk, berusaha jalankan tips yg ada di artikel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Mbak! Kita mulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat dulu. :)

      Hapus
  8. Paling tidak nyaman saat berada di jalan dan ada pembuangan dari kendaraan bermotor yang asapnya menebal hitam dan bau

    Semua ternyata memiliki peran penting ya, mulai dari bahan bakar yahg dipilih sampai perawatan kendaraan juga turun mendukung langit biru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaupun udah pakai masker, asap kendarannya tetep tembus ya, Mbak. Hiks :(

      Benar, Mbak. Sekarang harus peduli sama BBM yang dipakai. Biar langit kita tetap biru.

      Hapus
  9. Semoga makin banyak yang peduli dengan lingkungan sekitarnya ya Mba... jadinya langit bisa kembali bisa biru lagi kan indah dan sehat...

    BalasHapus
  10. Seringkali saya memandang langit di tengah pandemi
    Memang ada perubahan warna tapi setelah setahun berlalu, mulai blur lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih kan, Mbak, liatnya? Semoga kedepannya bisa terus biru seperti langit di kota-kota di Eropa. :)

      Hapus
  11. Ah, ternyata program Langit Biru sudah dari dulu ya. Jadi ingat jaman dulu, karena polusi motor 2 tak disingkirkan diganti motor 4 tak. Lumayan mengurangi asap kendaraan di jalan raya.

    Sekarang BBM, kalau lihat angka RONnya, Premium dengan Pertalite hampir mirip, namun sepertinya pertalite akan dinomorsatukan karena RONnya lebih tinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih, Mbak. Udah 25 tahun aja programnya. Pertalite kalau mau di nomor satukan lebih baik RON nya dinaikkan ke 91 sih biar lebih ramah lingkungan.

      Hapus
  12. Saya jadi ingat ketika PSBB mba, langit jadi biru sekali karena emisi kendaraan berkurang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indah bangeett, ya, Mbak. Coba tiap hari kaya gitu. Huhuu

      Hapus
  13. Alhamdulillah aku lebih sering pakai Pertamax karena ga hanya lebih ramah lingkungan tapi juga lebih baik untuk mesin kendaraan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap, Mbak. Ajakin yang lain juga buat pakai Pertamax, Mbak. Hehe

      Hapus