Melihat Lebih Dekat Layanan Kesehatan dan Perawatan Diri Kusta


Hari ini, 17 Agustus 2021, tepat 76 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan oleh Bung Karno. Layaknya merdeka dari penjajah, kita juga ingin rakyat merdeka dari ancaman penyakit dan merdeka dalam memperoleh akses layanan kesehatan yang berkualitas.

Bagaimana agar masyarakat tidak sakit? Tentu saja harus menerapkan pola hidup sehat dan mengerti tentang kesehatan. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Ya, orientasi masyarakat harus mengarah ke tindakan preventif dalam kasus penyakit apapun. Tak terkecuali kusta.

Kamu sudah tahu apa itu kusta? Beberapa waktu lalu saya menanyakan hal yang sama ke orang-orang sekitar. Jawaban mereka sesuai prediksi. 

"Kusta penyakit yang dikucilkan itu, ya?"

Selama berabad-abad, stigma tentang kusta tak kunjung usai. Sering kita temui penderita kusta yang dikucilkan oleh lingkungan. Penyakitnya dianggap turunan, memalukan, bahkan tak jarang disebut sebagai sebuah kutukan. 

Tahun 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Indonesia berada pada urutan ketiga sebagai negara dengan kasus kusta tertinggi di dunia setelah India dan Brasil. Jumlah penderita kusta di Indonesia berkisar 8% dari kasus dunia. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk segera menurunkan jumlah angka Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Pada tahun 2019 Kementerian Kesehatan melaporkan ada 17.439 kasus kusta baru. Tahun 2020 jumlahnya turun menjadi 9.061 kasus kusta baru. Kemenkes memperkirakan hal ini terjadi karena adanya pembatasan kegiatan penemuan kasus baru selama pandemi Covid-19.

Karena pembatasan itulah kita sebagai masyarakat harus aware terhadap kusta dan gejalanya agar dapat mendeteksi penyakit ini sedini mungkin. Lalu, apa sebenarnya penyakit kusta itu? Apakah menular? Mengapa penderita kusta dikucilkan bahkan penyakitnya dianggap kutukan? Yuk, kita mengenal kusta lebih dekat.


Mengenal Kusta Lebih Dekat


Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Tahun 1873, seorang ahli kimia dan biologi yang berasal dari Norwegia yaitu Gerhard Armauer Henrik Hansen berhasil mengidentifikasi kuman penyebab kusta tersebut. Ini sekaligus menegaskan bahwa kusta atau lepra bukan penyakit turunan atau kutukan.

Bagian tubuh mana saja yang biasanya diserang oleh kusta? Penyakit ini menyerang berbagai bagian tubuh manusia seperti kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernapasan atas, dan mata. Apabila dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan yang baik, maka secara progresif kusta dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata. Kerusakan itulah yang menyebabkan penderita kusta mengalami disabilitas.

Apakah kusta menular? Betul. Kusta dapat menular jika penderita belum/tidak minum obat, dan dalam kurun waktu yang lama berada dalam satu kamar atau satu rumah dengan orang lain. Kontak lama dan berulang inilah yang dapat menularkan kusta. Jadi, jika sebatas berjabat tangan dengan penderita kusta maka tidak akan tertular. Selain itu, lepra juga dapat menular melalui saluran pernapasan. 

Yang perlu digaris bawahi adalah kusta tidak menular dengan mudah. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, enam dari tujuh kasus kusta tidak menular ke orang lain. Adapun jenis kusta yang menular setelah diobati secara teratur selama 6 bulan tidak akan menular.


Seperti apa gejala kusta? Tanda dan gejala yang dapat kita lihat pada penderita kusta antara lain:
  1. Pada kulit timbul bercak putih seperti panu yang awalnya kecil namun lama-kelaman semakin lebar dan jumlahnya bertambah banyak. Berbeda dengan panu, bercak kusta tidak terasa gatal.
  2. Timbul bintil kemerahan pada kulit.
  3. Ada bagian tubuh yang tidak berkeringat dan tidak tumbuh rambut.
  4. Kesemutan pada anggota badan.
  5. Wajah benjol dan tegang.
  6. Mati rasa karena kerusakan saraf tepi.
Gejala tersebut tak selalu tampak pada penderita kusta. Sebaiknya waspada jika ada luka pada tubuh yang tak kunjung sembuh. Perubahan warna kulit menjadi lebih terang, lebih gelap, atau kemerahan yang terjadi tanpa penyebab pasti juga patut dicurigai sebagai tanda atau gejala kusta.

Biasanya orang yang tinggal di daerah endemik berisiko tinggi terkena kusta. Tempat tidur tidak layak, akses air bersih sulit, asupan gizi yang buruk, atau adanya penyakit lain seperti HIV menjadi penyebab munculnya Mycobacterium leprae. Oleh karena itu, pola hidup sehat dan bersih sangat penting agar terhindar dari kusta.


Stop Stigma! Kusta Ada Obatnya


Upaya pencegahan dan pengendalian kusta terus dilakukan oleh berbagai pihak. Namun, stigma yang beredar di masyarakat menjadi salah satu hambatan usaha tersebut. Stigma tak hanya datang dari tetangga, namun juga dari orang terdekat yaitu keluarga. 

Oleh karenanya, penting bagi kita semua untuk mengenal secara dekat apa itu kusta sehingga tak ada perasaan khawatir yang berlebihan atau sampai mengucilkan penderita. Dalam proses penyembuhan, keluarga adalah support system terbaik yang harus mendukung OYPMK untuk sembuh. 

Jangan sampai kita memberikan tekanan yang dapat mengganggu psikologis mereka. Jangan pula berbuat diskriminatif seperti melarang beribadah di masjid atau menggunakan transportasi umum. Mengahadapi kenyataan untuk minum obat teratur minimal 6 bulan saja sudah berat, apalagi jika ditambah beban psikis dari lingkungan sekitar. Ujungnya, kesehatan mental penderita akan ikut terganggu. Penderita kusta adalah manusia yang sudah sepatutnya kita perlakukan seperti manusia. 

Oh iya, tenang saja kusta ada obatnya! Ya, jika ada kerabat terdekat yang terkena kusta mari beri pengertian dan edukasi untuk segera berobat. Karena jika terlambat diobati, kusta dapat menyebabkan disabilitas. Menurut Kementerian Kesehatan, seringkali penderita datang ke fasilitas kesehatan sudah terlambat atau dalam keadaan cacat. Padahal, jika ditangani lebih cepat, kusta dapat sembuh tanpa cacat.  Obat kusta bisa didapatkan dengan mudah melalui Puskesmas terdekat dan gratis, loh. 

Apa saja bentuk layanan kesehatan yang diterima oleh OYPMK?


Layanan Kesehatan untuk OYPMK


Layanan kesehatan untuk OYPMK bisa didapatkan dengan mudah mulai dari tingkat Puskesmas. Petugas kesehatan akan memeriksa untuk menemukan tanda atau gejala kusta. Diagnosis dini berguna untuk mencegah terjadinya disabilitas pada penderita kusta. Kegiatan skrining dilakukan dari rumah ke rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.

Selanjutnya, pasien yang terkonfirmasi kusta akan diberi pengobatan selama 6-24 bulan. Lamanya pengobatan ditentukan berdasarkan jenis kusta yang diderita. Pemantauan pengobatan terus dilakukan petugas medis untuk mengetahui efektivitas obat kusta pada OYPMK. Selain itu, tanggal pengambilan obat terus dimonitor oleh petugas. Bentuk layanan ini hampir sama dengan penyakit tuberkulosis (TBC).

Pada keadaan khusus, misalnya akses yang sulit atau sangat jauh ke fasilitas kesehatan, maka dapat diberikan sekaligus beberapa blister obat. Petugas Puskesmas juga akan menjelaskan mengenai efek samping obat yang mungkin terjadi. Biasanya jika terjadi efek yang tidak normal, disarankan OYPMK untuk segera mengunjungi Puskesmas guna melakukan konsultasi. 

Pengobatan pada penderita kusta merupakan salah satu ikhtiar untuk memutus mata rantai penularan. Setelah selesai pengobatan, OYPMK akan terus dipantau oleh petugas Puskesmas untuk menghindari reaksi kusta yang dapat menyebabkan disabilitas. 

Suksesnya pelayanan kesehatan terhadap kusta sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan kapasitas tenaga kesehatan. Tak heran jika pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis melalui kegiatan workshop atau on the job training.

Guna mencapai target eliminasi tingkat kabupaten/kota tahun 2024, program pencegahan dan penanggulangan kusta masuk sebagai Program Prioritas Nasional (Pro-PN). Selain itu, bentuk dukungan dana juga diberikan untuk pelaksanaan program seperti advokasi, sosialisasi, pelatihan, dan upaya deteksi dini baik tingkat pusat maupun daerah. Pemenuhan jaminan kesehatan bagi OYPMK maupun penyandang disabilitas merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap penyakit ini.

Bagi penderita kusta, selain minum obat perlu juga adanya perawatan diri (self-care) agar kondisi penyakit tidak bertambah buruk. Bagaimana bentuk perawatan diri yang perlu dilakukan oleh OYPMK?


Perawatan Diri Kusta


Perawatan diri merupakan tindakan pemeliharaan kebersihan dan kesehatan. Selain pengobatan, perawatan diri penting untuk mencegah timbulnya disabilitas atau memperburuk keadaan disabilitas pada penderita kusta. Sayangnya, beberapa OYPMK terkadang malas atau tidak telaten untuk merawat diri.

Bentuk perawatan diri pada mata, tangan, dan kaki OYPMK dilakukan dengan prinsip 3M yaitu Memeriksa, Merawat, dan Melindungi. Perawatan dapat dilakukan setiap hari di rumah meliputi:
  1. Melindungi mata dari debu dan angin yang dapat mengeringkan mata dengan menggunakan kaca mata. 
  2. Melindungi tangan dari benda panas, kasar, atau tajam dengan menggunakan sarung tangan.
  3. Melindungi kaki agar tidak luka dengan menggunakan alas kaki. 
  4. Merendam kaki dan tangan dengan air hangat lalu mengolesinya dengan pelembab kulit setelah direndam. 
  5. Menggosok bagian kulit yang menebal dengan batu apung.
Jika masih ragu tentang bentuk self-care yang dapat dilakukan di rumah, OYPMK dapat meminta penyuluhan kepada petugas kesehatan. Selain dilakukan secara mandiri, perawatan diri juga dapat dilakukan dengan berkelompok.

Untuk yang tinggal satu rumah dengan penderita kusta, bentuk pencegahan penularan adalah dengan cara menjaga daya tahan tubuh, selalu hidup sehat dan bersih, dan perhatikan sirkulasi udara di rumah. Karena pada dasarnya, bakteri kusta hidup di area yang kotor. Kuman kusta senang berada di tempat lembab dan akan mati jika terkena panas. Oleh karena itu, sinar matahari sangat dibutuhkan untuk masuk ke rumah. Jangan lupa juga selalu mengingatkan OYPMK untuk minum obat secara rutin hingga sembuh.

Peran aktif dan kesadaran kita semua tentang kusta dapat membantu menurunkan jumlah OYPMK, bahkan menjadikan Indonesia bebas kusta. Penguatan literasi dapat menghapus stigma penderita kusta sehingga mereka tidak lagi dikucilkan dan bisa berkarya layaknya orang yang sehat.

Bentuk sosialisasi dan edukasi mengenai kusta dapat dilakukan oleh siapa saja dengan memanfaatkan platform digital. Dapat melalui blog, media sosial, podcast, atau yang lainnya. Seperti yang kita ketahui, akses pelayanan kesehatan terhadap penyakit kusta sangat terbuka, tidak mahal atau bahkan gratis. Perawatan diri pada OYPMK juga tidak sulit. Hanya perlu ketekunan saja. Jadi, mari kita hilangkan stigma. Kusta dapat sembuh dengan tuntas!

Yuk, mulai buka wawasan dan kepedulian kita agar Indonesia segera bebas dari kusta! 



***

Sumber bacaan: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Penanggulangan Kusta

You Might Also Like

61 comments

  1. Waktu kecil pernah mendengar ada penderita kusta di daerahku, tapi sudah proses penyembuhan. Alhamdulillah sekarang kayanya udah ga ada...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semoga yang kena terus berkurang, Mbak.

      Hapus
  2. Aku hanya tau penyakit ini dari cerita-cerita kitab suci. Semoga tidadk ada yang harus menderita penyakit ini di daerahku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mba, saya juga dengarnya di Kitab aja, semoga sih ga beneran ada ya, karena kayaknya kasihan kalau sampe di kucilkan :(

      Hapus
  3. Kusta. Dulu ku hanya.mengenalnya sebagai nama sebuah penyakit yg menakutkan.. Terima kasih mba..sudah membuatku mengenal.kusta.lebih dekat melalui.tulisan ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak. Semoga bisa membantu untuk menambah wawasan, ya.

      Hapus
  4. Ternyata kusta masih ada, ya. Saya kirain suda benar-benar menghilang. Saya setuju agar jangan lagi ada stigma. Kaishan yang terkena kusta. Harusnya dibantu hingga sembuh

    BalasHapus
  5. Semoga kita semua tetap selalu sehat ya, Mbak. Pokoknya harus tetap jaga kebersihan kulit agar kulit tetap sehat. Terima kasih infonya seputar penyakit kusta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak. Yap, pola hidup sehat dan bersih harus dijaga.

      Hapus
  6. aaa sedih banget apalagi kalo sampe anak kecil atau orang tua yang kena yaa, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan dijauhkan dari segela penyakit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, Mbak. Anak kecil kan harus sekolah, ya. Biasanya akan jadi bahan cemoohan teman-temannya. Semoga kedepannya nggak ada lagi stigma di kalangan masyarakat.

      Hapus
  7. Terimakasih pencerahannya mbak. Selama ini kusta banyak dianggap sebagai penyakit kutukan sehingga penderitanya dikucilkan di masyarakat. Bahkan sampai kapan pun penderita kusta ini tidak mendapatkan tempat di masyarakat. Semoga ada edukasi secara luas kepada masyarakat tentang kusta ini...agar penderitanya atau yang sudah sembuh dari penyakit ini dapat diterima di masyarakat, bahkan bisa mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah khususnya dinas kesehatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, sebarin edukasi tentang kusta bareng-bareng, Mbak. Biar nggak ada lagi stigma di masyarakat.

      Hapus
  8. Alhamdulillah, dengan menuliskan mengenai hal-hal dan fakta seputar kusta, maka kita semua bisa banyak belajar dan juga berempati terhadap penderita. Waspada?
    Perlu banget.
    Dan juga paham cara mengobati penyakit kulit yang satu ini sampai tuntas sehingga tidak berlarut-larut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat tulisannya untuk menambah wawasan tentang kusta, Mbak Lendy.

      Hapus
  9. Di daerah saya literasi tentang kusta masih minim, jadi ada seorang ibu yang persis banget sakitnya dengan kusta malah dijauhi dan dijadikan omongan pembawa penyakit. Semoga petugas kesehatan di setiap daerah rutin Menginformasikan mengenai penyakit kusta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak. Semoga penanganan kusta di berbagai daerah semakin baik, ya. Yuk, bareng-bareng kita perluas literasi dan kampanye tentang kusta.

      Hapus
  10. Dulu banget sering dengar penyakit Kusta, tapi sekarang sudah jarang. Ternyata masih ada penderitanya tapi nggak tau kenapa jarang ada sosialisasi di masyarakat cara menangani kusta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di daerah Jawa emang udah jarang, Mbak. Bahkan di sekitar tempat tinggaku pun udah nggak ada yang kena. Nah kalau soal sosialisasi emang perlu ditingkatkan nih.

      Hapus
  11. Semoga Indonesia bebas kusta aamiin, aku juga butuh literasi penyakit kusta banyak yang belum tahu di daerahku mba Sov. Kudu hati-hati dalam menjaga kesehatan, saling mengingatkan. Makasih mba Sov, buat sharingnya jadi nambah ilmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sama-sama, Mbak. Semangat untuk belajar tentang kusta.

      Hapus
    2. InsyaAllah mba, minimal tahu lah ya bagaimana penyakit kusta ini berbentuk dan lain sebagainya biar aware juga terhadap kesehatan di lingkungan orang yang saya sayangi

      Hapus
  12. Benar sekali, Indonesia belum merdeka dari penyakit. Salah satu kusta, kelihatannya penyakit ini sangat menjijikkan tapi pasti ada obat dan pencegahannya. Aku pernah mendengar penyakit didaerahku tapi saat ini sdh membaiknya dgn memakai obat herbal. Iya, Indonesiakan kaya akan herbal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau udah membaik, Mbak. Semoga nggak ada yang kena lagi, yaa.

      Hapus
  13. Dari dulu penasaran sama penyakit kusta ini dan stiga negatif yang beredar di masyarakat, Alhamdulillah dikupas sangat detail ditulisan ini 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga membantu untuk menambah wawasan tentang kusta, Mbak.

      Hapus
  14. Dulu waktu kecil saya suka dilarang keluar karena ditakut-takutin sama penderita kusta
    Padahal waktu itu saya enggak tahu kusta seperti apa
    Sudah SMP baru paham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaapp, anak kecil paling taunya itu penyakit kulit yang menular gitu ya, Mbak.

      Hapus
  15. Edukasi tentang kusta alhamdulillah makin gencar ya mbak, jd masyarakat juga paham gmn memperlakukan penyintas kusta. Gak kyk dulu yang msh taku2. Apalagi kusta pun udah bisa disembuhakndgn minum obat.
    Aamiin moga Indonesia beba kusta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Dan memang harus semakin gencar. Soalnya Indonesia masih ranking 3 dunia dengan kasus terbanyak nih.

      Hapus
  16. Sering mendengar tentang kusta tetapi nggak sampai ngerti ternyata Indonesia diurutan ketiga untuk kasus penderita kusta. Jangka pengobatanannya hampir sama dengan TBC ya mbak 6-24 bulan. Semoga Indonesia segera terbebas dari penyakit ini ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya jumlahnya masih cukup banyak di Indonesia, Mbak.

      Hapus
  17. aku inget banget dulu pas SD juga pernah dapat pelajaran tentang sakit kusta, dan kebetulan di lingkungan sekolah ada orang yang juga sakit kusta. dan ya, begitulah, banyak dikucilkan oleh orang2 bahkan jadi olok2 anak sekolah huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nih kasian banget kalau yang kena anak kecil. Pasti dikucilkan di sekolah. :(

      Hapus
  18. alhamdulillah support untuk penderita kusta cukup lengkap dari pemerintah ya..
    obat-obatan gratis di puskesmas.
    Tinggal warganya aja yang perlu diedukasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Semangat yuukk buat sebarin edukasi tentang kusta.

      Hapus
  19. Semoga jumlah penderita kusta di tahun 2021 menurun lagi ya. Dan semoga dengan adanya postingan2 edukatif seperti ini, semakin banyak yang terbuka mata dan hatinya dalam bersikap kepada para OYPMK.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Bun. Bismillah semoga terus turun dan semakin banyak yang aware dengan kusta. Mau membagikan informasi yang edukatif.

      Hapus
  20. Seneng banget mulai banyak edukasi tentang penyakit kusta. Jadi masyarakat juga tidak serta merta mengucilkan oara penderitanya ya. Apalagi kusta bisa diobati ya, semoga makin banyak yang bisa sembuh dengan penanganan yang baik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak. Kita semua berharap yang terbaik agar Indonesia lekas bebas dari kusta.

      Hapus
  21. Perhatian kepada mereka yang terkena kusta emang harus digalakkan mba. Dan banyak orang yang aware juga biar tak banyak yang menganggap kusta adalah penyakitnya harus dijauhi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Toh meskipun menular, penularannya nggak terjadi dengan mudah. Jadi nggak perlu kita mengucilkan mereka.

      Hapus
  22. Stigma thd penderita kusta ini lumayan bikin kezel ya mba.
    kasihan bangett, kalo selama ini mereka kerap dikucilkan.
    semoga edukasi seperti postingan ini bisa mencerahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, Mbak. Apalagi kalau terjadi pada anak-anak. Membayangkan perasaan mereka saja aku nggak sanggup.

      Hapus
  23. wow... ternyata di negara kita banyak juga ya penderita kusta, saya baru tahu... semoga dgn adanya edukasi penderita kusta semakin berkurang dan tidak lagi di under estimate kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak, Mbak. Bahkan nomor 3 di dunia. :(

      Hapus
  24. Kusta termasuk salah satu penyakit tertua di dunia yaaa... Saat ini makin jarang yang menderita penyakit ini karena kondisi lingkungan sudah makin membaik. Berhubung banyak yang tidak aware dengan kusta, bagus nih ada informasi seperti artikel ini yang bikin kita makin paham bagaimana mengatasi permasalahan kesehatan terkait kusta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Uniek. Salah satu penyakit tertua.

      Hapus
  25. Kudu waspada yaa...kalau ada gejala yang gak biasa dalam tubuh meski awalnya tampak tidak serius, tapi tetep kudu diperiksakan pada ahlinya agar cepat mendapatkan penanganan secara medis.
    Bagus sekali edukasi mengenai kusta begini..
    Jadi banyak informasi yang benar terkait penyakit kusta yang beredar di masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Lendy. Minimal kita tau gejalanya sehingga nggak bingung harus ngapain kalau ada tanda-tanda kusta.

      Hapus
  26. adikku penderita kusta, Mba, udah berobat rutin selama setahun ini. Tapi setelah jangka waktu berobatnya selesai dan dia periksa ke lab, hasil labnya masih positif padahal selama setahun selalu rutin (gak pernah telat) minum obat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku turut sedih dengarnya, Mbak. Jadi pengobatannya dilanjutkan lebih dari setahun, ya? Semoga adiknya Mbak Ira lekas sembuh dari kusta, yaa. Semangaaattt minum obat dan melakukan perawatan diri terus. Yakin bisa sembuh.

      Hapus
  27. Makin banyak yang menyuarakan ttg penderita dan penyintas kusta makin bagus ya mbak?
    Soalnya zaman dulu emang orang kalau dengar kusta tu agak gmn gtu
    Aku sendiri sampai segede ini msh keinget saat kecil pernah lihat baliho gede banget kyk baliho capres2 skrng di deket puskesmas, yg gambarnya penderita kusta dan emang bikin terkenang agak gmn gtu ttg hal2 negatif
    Kyknya org zaman dulu, pejabat kesehatannya, mungkin maksudnya baik majang baliho segede itu, tp gak paham kalau baliho segede itu bikin efek negatif soal kusta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau baliho besar gitu baiknya pakai gambar yang 'wajar' aja ya, Mbak. Biar nggak timbul stigma.

      Hapus
  28. Dari zaman nabi sudah ada penyakit kusta ini dan itu menakutkan buat saya yg minim pengetahuan. makasi ya, dengan tulisan ini jadi mengenal kusta lebik banyak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Lita. Semoga bermanfaat, yaa.

      Hapus
  29. Ternyata sampai sekarang masih ada ya penyakit kusta, pertanda kita harus tetap menjaga diri dari penularannnya dan waspada jangan sampai tertular. Tapi kalo ada penderita di sekitar kita pun, ya tetap diperlakukan dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waspada boleh, tapi jangan mendiskriminasi ya, Mbak.

      Hapus
  30. stay safe and stay healthy everyone :D

    BalasHapus