Drama, Tawa, dan Duka di Stadion Patriot Candrabhaga

Stadion Patriot
Indonesia vs Fiji (2 September 2017)

Sepak bola Indonesia akhirnya resmi bergulir kembali pada Jumat, 27 Agustus 2021 setelah setahun vakum. Meski telah dimulai, suporter belum diperbolehkan untuk datang ke stadion mendukung tim kebanggaannya. Ya, kita semua tahu kalau kasus Covid-19 masih bertambah ribuan setiap harinya. Oleh karenanya, kepolisian belum memberikan izin sepak bola digelar dengan penonton di stadion.

Sebagai pecinta sepak bola sejak SD, rasanya sudah rindu sekali memakai jersey dan bernyanyi di tribun. Meski sebenarnya aku bukan termasuk orang yang rutin datang ke stadion setiap kali tim kesayangan bertanding. Maklum, ya, perempuan susah dapat izinnya dari orang tua.

Selama kuliah di Jakarta, sepertinya hanya empat kali aku datang ke stadion. Pertama waktu nonton Arema vs Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kedua juga ke GBK saat final Piala Bhayangkara Cup 2016 Arema vs Persib. Ketiga nonton Arema vs Bhayangkara di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, dan terakhir juga ke Stadion Patriot untuk mendukung Timnas Indonesia. Kalian yang sudah lama mengenal aku pasti paham seberapa besar cintaku ke Arema. Makanya setiap Arema main di sekitar Jakarta aku usahakan datang ke stadion.

Timnas Indonesia
E-Voucher Indonesia vs Fiji

Setiap stadion dan pertandingan memiliki cerita unik masing-masing yang akan menjadi kenangan. Kali ini aku mau menceritakan pengalaman nonton Indonesia vs Fiji pada 2 September 2017. Karena dari empat kali datang ke stadion, perjalanan kali ini banyak sekali drama, tawa, dan duka. Aku dan temanku, Eva namanya, sudah membeli tiket lewat online sejak 31 Agustus 2017 atau 2 hari sebelum pertandingan. Karena takut kehabisan tiketnya jika membeli on the spot. Kami memilih kategori VIP Timur 3 dengan harga Rp50.000 seperti yang tercantum pada e-voucher.

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Kami berangkat berdua dari kos di Jagakarsa, Jakarta Selatan sekitar pukul 12.00 siang karena lokasinya cukup jauh dari Bekasi. Setelah naik angkot, kami pindah ke KRL menuju Stasiun Bekasi. Perjalanan menuju Stadion Patriot dilanjutkan menggunakan taksi online agar lebih cepat sampai. Kebetulan, lokasinya tak terlalu jauh dari stasiun.

Keramaian sudah terlihat saat kami membuka jendela mobil. Banyak suporter Indonesia yang datang dengan mengenakan jersey berlogo Garuda di dada. Sedangkan aku hanya memakai kaus hitam dan Eva dengan kemeja warna cokelatnya. Kami memang belum memiliki jersey Indonesia saat itu.

Sekitar pukul 14.00 WIB, loket tiket mulai dibuka. Aku kaget ketika tahu kami harus menukarkan e-ticket yang telah di cetak dari rumah dengan tiket fisik dari panitia. Yang bikin kesal adalah, hanya ada satu titik loket yang dibuka. Loket satu untuk antrian tiket on the spot, sedangkan loket dua untuk yang online. Dan itu antriannya puanjaaaaang banget. 

Sambil antri, banyak suporter yang ngedumel "Gimana sepak bola Indonesia mau maju, nih. Ngurus antrian tiket aja nggak bener." Aku sepakat, sih. Buat apa e-ticket yang sudah ada barcodenya harus ditukar dengan tiket fisik? Kan sebenarnya sama saja bisa dipindai. Kalau seperti ini antriannya, percuma saja beli tiket online.

Aku dan Eva antri di barisan agak belakang. Padahal sudah sekitar pukul 15.00 WIB dan kami belum mendapat giliran untuk menukarkan tiket. Tahu apa yang Eva lakukan? Dia berencana untuk memotong antrian di depan. Karena kick-off sebentar lagi dan kami masih antri.

Akhirnya Eva pun menjalankan aksinya. Tanpa rasa malu, ia pergi ke antrian depan. Sementara aku tetap antri di belakang sambil jaga-jaga kalau aksi Eva tak berhasil. Sesampainya di depan, Eva basa-basi dulu ngobrol dengan salah satu pria yang sedang antri. Lalu, ia mulai me-lobby pria tersebut dengan berkata kalau sudah antri lama, pusing, dan sakit perut karena belum sarapan. Apakah boleh seandainya Eva antri dulu di depan Mas-nya itu? Ternyata si Mas yang baik hati memperbolehkan! Dari belakang terdengar keluhan orang lain yang berkata "Kapan dapet tiketnya nih antrian dipotong terus." Aku selalu senyum-senyum ketika mengingat momen ini.

Timnas Indonesia
Gelang Tiket Indonesia vs Fiji

Eva selesai menukarkan tiket dan kembali ke belakang menemui aku sambil berkata "Dapat!". Aku pun keluar dari barisan antrian sambil tertawa. Btw, saat itu Eva memang belum sarapan, ya. Tapi dia tidak pusing kok. Itu hanya trik semata. Buat Mas-nya, terima kasih banyak! 

Kami pun bergegas masuk ke stadion karena pertandingan akan segera dimulai. Di sepanjang jalan menuju pintu masuk, banyak sekali pedagang atribut timnas. Aku membeli satu jersey untuk dikenakan, sedangkan Eva belum menemukan jersey yang cocok.

Ketika hampir sampai di pintu masuk tribun, Eva belum membeli atribut timnas apapun. Akhirnya dia minta ditemani untuk kembali ke tempat aku beli jersey tadi. Ya ampun, dasar perempuan, ya. Sudah pilih-pilih ke sana kemari tetap saja balik ke tempat awal hahaha.

Sesampainya di pintu masuk ada proses pengecekan barang bawaan seperti di stadion-stadion pada umumnya. Biasanya untuk botol minum, benda tajam, korek, petasan, dan kembang api tidak boleh dibawa masuk. Meski tak jarang banyak yang lolos dari pemeriksaan.

Sebelum tiket dipindai, Pak Polisi yang bertugas saat itu meminta kami untuk memakai gelang tiketnya. Eva justru pura-pura tidak bisa pakai dan meminta Pak Polisi untuk memakaikan ke tangannya. Astaghfirullah. Memang kelakuannya ini bocah ada-ada saja. Modus teroooosss.

Stadion Patriot
Beberapa Suporter Salat di Tangga Stadion Patriot

Setelah tiket dipindai dan lolos dari pemeriksaan, kami mulai menaiki tangga. Betapa terkejutnya ketika di tengah tangga ada orang-orang yang sedang melaksanakan salat asar. Aku baru sadar ternyata tadi di luar memang tidak melihat ada musala atau masjid. Beda sekali dengan SUGBK yang masjidnya sangat besar sehingga suporter tak harus solat di tangga atau pelataran tribun. Miris sekali stadionnya minim tempat ibadah. 

Aku belum keliling semua pelataran Stadion Patriot ini, sih. Hanya saja dari semua jalan yang aku lewati sebelum sampai di tribun, tak nampak ada tempat ibadah. Kebetulan aku dan Eva sedang datang bulan sehingga tidak mencari musala untuk salat.

Oh iya, kami kan beli jersey tadi. Nah, ketika hampir masuk tribun jerseynya belum dipakai. Terus aku bilang ke Eva, mumpung sepi pakai jerseynya di tangga saja. Di dobel dengan kaus dan kemeja yang kami pakai dong tentunya. Eva malah jawab mau pakai di tribun saja. Tidak paham aku dengan pola pikirnya. Di Tribun kan ramai banget haha. Tapi akhirnya dia pakai di tangga, kok.

Stadion Patriot
Pemain Sedang Melakukan Pemanasan Sebelum Pertandingan

Sorak-sorai suporter makin terdengar jelas begitu kami masuk tribun. Eh tapi, kursi yang sesuai tiket kami (VIP Timur 3) kok sudah penuh, ya? Aku tidak heran melihatnya karena memang sering begitu. Orang belinya tiket A, duduknya di B. Soalnya aku pernah begitu juga waktu di GBK. Beli tiket kelas II duduknya di Kelas I. Ups, ketahuan deh haha.

Kami memutuskan untuk bergeser ke selatan yaitu di VIP Timur 4. Di sini agak lega tempat duduknya karena hanya isi beberapa. Alhamdulillah bisa memilih tempat yang jauh dari asap rokok.

Jalannya pertandingan kami nikmati dengan suka cita. Akhirnya merasakan sensasi merinding ketika Indonesia Raya dikumandangkan sebelum pertandingan di mulai. Terharu, biasnya cuma nonton di televisi. Ini live di stadion! Eva sebenarnya tidak terlalu suka sepak bola. Tapi ia bersedia aku ajak datang ke stadion karena mau lihat pemain asing yang ganteng. 😂

Meski saat itu pertandingan berakhir tanpa gol, aku tetap senang dapat merasakan atmosfer nonton Timnas langsung di stadion sebelum kembali ke kamping halaman. Soalnya kalau sudah di rumah bakal susah datang lagi ke stadion.

Anyway, soal tempat duduk yang pindah tadi, kami merasa Allah telah melindungi kami dari mara bahaya. Karena setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya babak kedua, kami disuguhi aksi petasan yang meluncur dari tribun selatan ke tribun VIP Timur 3. Aku dan Eva melihat dengan jelas petasan itu meluncur. Akibatnya satu orang suporter meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit karena terluka di bagian kepala.

Melihat kejadian tersebut, banyak suporter yang berteriak "Kampungan, kampungan, kampungan." Sangat disayangkan tingkah laku yang membahayakan seperti ini. Padahal, mereka yang berada di tribun selatan sangat semangat bernyanyi, meneriakkan yel-yel selama 90 menit. 

Semoga tidak ada lagi korban di sepak bola, ya. Aku pribadi berharap stadion bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapapun yang ingin menyaksikan pertandingan sepak bola.

You Might Also Like

0 comments