Nasi Nyangku

Tamasya ke suatu daerah tak lengkap rasanya bila tidak mencicipi kuliner khas setempat. Beberapa waktu lalu aku bercerita tentang pengalamanku pertama kali camping di bawah kaki Gunung Slamet. Pemandangan, suasana, dan kelengkapan fasilitas di CAUB Baturaden membuat aku betah berlama-lama tidur di tenda. Perjalanan ke daerah pegunungan memang selalu berkesan bagiku.

Keesokan harinya, aku disuguhi pemandangan Gunung Slamet yang memukau seakan membuat mata ini tak ingin berpaling. Pagi itu cuaca sangat cerah. Tak terlihat kabut menutupi megahnya gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah tersebut. 

Saat sedang asyik berfoto dengan teman-teman, kami dipanggil oleh tour guide untuk sarapan. Ini salah satu momen yang aku tunggu karena penasaran dengan kuliner khas setempat. Beberapa nasi yang dibungkus dengan daun berbentuk seperti kerucut sudah tertata rapi di depan tenda. "Wah, makanan apa itu?", tanyaku.

Tour guide kami pun menjelaskan bahwa itu adalah nasi nyangku, kuliner khas lereng Gunung Slamet. Dinamakan nasi nyangku karena bungkus nasinya dari daun nyangku. Pohon nyangku memang banyak tumbuh di wilayah tersebut. 


Nasi Nyangku yang Ramah Lingkungan

Nasi Nyangku

Kamu pernah tidak datang ke tempat wisata lalu melihat sampah plastik yang menggunung? Itu baru di satu tempat. Bagaimana jika sampah plastik dari seluruh tempat wisata di Indonesia dikumpulkan dalam satu wilayah? Wah, bakal setinggi apa, ya, kira-kira?

Nah, di tengah terus bertambahnya jumlah sampah plastik di Indonesia, bungkus makanan dari daun memang menjadi alternatif untuk menciptakan kuliner yang ramah lingkungan. Biasanya beberapa wilayah menggunakan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus makanan. Di lereng Gunung Slamet, tepatnya di Baturaden, masyarakat menggunakan daun nyangku. Karakter daun nyangku yang lebar, panjang, dan kuat oleh masyarakat sekitar lalu dijadikan pembungkus makanan seperti nasi dan daging. Penggunaan daun juga dapat menambah cita rasa makanan menjadi lebih nikmat, loh.

Bekas kemasan dari daun nyangku yang mudah terurai tidak akan mencemari lingkungan. Sebagai wisatawan, tentu kita merasa lega karena tak harus meninggalkan sampah plastik yang sulit terurai dan menambah beban bumi. Seperti yang kita ketahui, sampah plastik dapat terurai di tanah dalam waktu 10 sampai 1.000 tahun lamanya. Sedangkan sampah daun dapat terurai dengan mudah hanya dalam waktu beberapa bulan saja. 

Tak hanya ramah lingkungan, nasi nyangku juga menjadi salah satu upaya pelestarian budaya masyarakat lereng Gunung Slamet. Nasi yang sudah ada sejak dulu ini kini dipopulerkan lagi melalui sektor pariwisata. Dua kali aku pergi ke Baturaden, dua kali pula aku disuguhi nasi nyangku. Penasaran sebenarnya menu nasi nyangku apa saja, sih? 


Menu Nasi Nyangku

Nasi Nyangku

Selain tumbuhan nyangku, di lereng Gunung Slamet juga banyak tumbuh paku sayur atau pakis. Ia biasanya tumbuh di tepi sungai atau tebing-tebing yang lembab. Oleh masyarakat setempat, daun pakis diolah menjadi sayur pendamping nasi nyangku. 

Umumnya, menu utama nasi nyangku adalah nasi putih, sayur daun pakis, ikan teri, dan sambal. Lalu untuk lauknya bisa memilih sesuai selera atau menyesuaikan budget. Jadi, menu nasi nyangku bervariasi, ya. Aku pernah makan nasi nyangku dua kali dengan menu berbeda.

  • Pertama, menunya adalah nasi putih, sayur pakis, ikan teri dan kedelai hitam, serundeng daging sapi, tempe bacem, dan sambal.
  • Kedua, menunya nasi putih, sayur pepaya muda, ikan goreng, ayam goreng, tempe goreng, ikan teri, petai, dan sambal.
Dari keduanya, aku lebih suka menu pertama karena lebih khas dengan penggunaan sayur daun pakis. Eh, btw, kalian sudah pernah mencoba sayur pakis atau belum, nih? Kapan-kapan cobain, ya, kalau ke Banyumas.


Harga Nasi Nyangku

Nasi Nyangku

Harga satu porsi nasi nyangku sangat ramah di kantong, mulai dari Rp15.000-Rp25.000 saja. tentu harga ini disesuaikan dengan menu yang diinginkan. Bagi wisatawan kota yang terbiasa menikmati fast food, mencoba nasi nyangku tentu memiliki kepuasan tersendiri. Dengan harga dua puluh ribuan saja dapat menikmati kuliner tradisional. Menurutku worth it banget, sih.

Coba bayangkan, kamu dan keluarga menyantap kuliner ramah lingkungan dari lereng Gunung Slamet ini sambil menikmati suasana pedesaan yang masih asri. Nikmat betul, kan?


Nasi Nyangku yang Instagramable 

Nasi Nyangku

Bentuk kemasan nasi nyangku yang unik sayang banget kalau tidak diabadikan dalam bentuk foto, ya. Siapa yang biasa ketemu makanan unik terus difoto dulu sebelum disantap? Haha tos dulu kita! Rasanya tiap pergi ke suatu tempat kalau ada yang unik bawaannya pengin pamer gitu di social media. Jangan salah sangka dulu, ini bukan sekadar pamer untuk kepentingan pribadi.

Mengunggah makanan tradisional suatu daerah merupakan salah satu bentuk promosi. Visual yang menarik dapat menggugah selera calon wisatawan untuk mencobanya. Semakin banyak wisatawan yang memopulerkan nasi nyangku, harapannya dapat menaikkan kuliner tradisional tersebut. Tak lupa, sampah plastik makanan di tempat wisata sekitar Gunung Slamet juga dapat berkurang dengan beralihnya konsumsi makanan nasi box ke nasi nyangku.

Anyway, aku pakai jaringan Smartfren untuk mempromosikan nasi nyangku di social media yang aku punya. Provider yang satu ini memang selalu mendukung segala aktivitas ku selama berselancar di internet. 

Smartpoin

Bagi para traveler, bisa dapat diskon penginapan atau belanja makanan dari Smartpoin adalah sebuah kebahagiaan yang hakiki, kan? Nah, bulan Oktober ini, Smartfren sedang ada Program Mystery Box #OktoBERHADIAH, loh. Hadihnya bermacam-macam dan bisa kamu cek di sini. Lumayan kan yang punya banyak Smartpoin bisa ditukar dengan hadiah-hadiah yang menarik. Hadiahnya bukan hanya potongan harga hotel atau voucher makanan, tapi juga ada pulsa, paket data, fashion, kesehatan, dan masih banyak lagi.

Cara mendapatkan Smartpoin gampang banget. Cukup download aplikasi MySmartfren lalu kamu akan mendapatkan poin setiap pembelian pulsa, daily check-in, beli paket internet di aplikasi MySmartfren, atau main game POP Quiz. Periode penukaran poinnya mulai tanggal 18-31 Oktober 2021, ya. Jangan sampai kelewatan. Tukar poinmu sekarang, yuk!