Wae Rebo
Source: Youtube/NET. Documentary

Setiap orang yang senang bertualang, pasti memiliki satu destinasi impian yang ingin dikunjungi minimal sekali dalam hidup. Mereka menyebutnya sebagai dream destination”. Bagiku, Wae Rebo dengan segala keelokannya seperti memiliki magnet yang menarik ku untuk segera datang menyambanginya.

Jika Dieng disebut sebagai ‘negeri di atas awan’, maka Wae Rebo pantas dijuluki sebagai ‘surga di atas awan.’

Wae Rebo, sebuah kampung adat unik di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kini, kampung adat yang berada di ketinggian 1.120 mdpl ini dihuni oleh generasi ke-20. Meski telah berganti generasi beberapa kali, mereka tetap menjaga adatnya dari terpaan zaman. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.


Konon katanya, Maro, nenek moyang warga Wae Rebo, bukanlah asli NTT. Mereka adalah orang Minangkabau, Sumatera Barat. Dipilihnya Wae Rebo sebagai tempat tinggal dari sekian banyak tempat yang disinggahi karena dua alasan. Pertama, karena Wae Rebo cocok ditanami berbagai jenis tanaman yang dapat menghidupi masyarakatnya. Kedua, tingkat tumbuh kembang manusianya tidak sepadat pulau lain.

Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dari desa tertinggi di Pulau Flores ini. Di bawah ini merupakan beberapa eksotisme Wae Rebo yang membuatku jatuh hati.


Rumah Adat Mbaru Niang

Wae Rebo
Source: Youtube/NET. Documentary

Mbaru niang, nama rumah adat masyarakat Wae Rebo ini terus dijaga kelestariannya. Kerja keras warga lokal untuk mempertahankan keutuhan rumah adatnya diganjar penghargaan Award of Excellence Asia-Pasific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation oleh UNESCO pada tahun 2012.

Rumah berbentuk kerucut dengan tinggi sekitar 15 meter ini berjumlah 7 rumah. Setiap rumah memiliki nama masing-masing. Nama tersebut diambil dari petinggi adat zaman dahulu. Dari ketujuh rumah tersebut, enam diantaranya dipakai sebagai tempat tinggal. Baik tempat tinggal warga maupun wisatawan. Satu mbaru niang bisa ditempati 6-8 keluarga. Satu rumah lainnya digunakan untuk menyimpan gendang dan pusaka milik kampung adat Wae Rebo.

Mbaru niang dibangun saling berhadapan membentuk setengah lingkaran. Uniknya, rumah ini dibangun tanpa paku, melainkan diikat menggunakan rotan. Pada pelataran mbaru niang terdapat sebuah bangunan berbentuk elips dengan diameter 7,4 meter dan tinggi 1,2 meter. Bangunan tersebut bernama compang yang merupakan titik pusat Wae Rebo dan biasanya digunakan untuk upacara adat.


Berselimut Kabut dan Berlatar Pegunungan Indah

Wae Rebo
Source: Instagram/@leo_edw

Wae Rebo merupakan desa tertinggi di Pulau Flores. Tak heran jika kabut pun akan datang untuk menyelimuti kampung ini pada pagi dan sore hari. Menurutku, kabut adalah panorama tersendiri yang melengkapi kecantikan sebuah dataran tinggi. 

Kombinasi pemandangan pegunungan hijau yang membentang dengan tujuh rumah adat mbaru niang sungguh membuat mata ini tak ingin berpaling. Rasanya seperti melihat surga! Warga sekitar memang sangat menjaga kelestarian alamnya. Bahkan wisatawan yang datang pun dilarang untuk merusak atau mengambil tumbuhan dari hutan. Mereka juga tidak diperbolehkan untuk membuat coretan di pohon maupun batu.


Kain Tenun Khas Wae Rebo

Tenun Wae Rebo
Source: Youtube/Kemenparekraf

Salah satu kekayaan budaya Indonesia adalah setiap daerah memiliki kain khas masing-masing, termasuk Wae Rebo. Di sini perempuan diwajibkan untuk dapat menenun kainnya sendiri. Ketika urusan rumah tangga telah selesai, para perempuan hebat di Wae Rebo ini akan melanjutkan kegiatan dengan menenun.


Di kampung adat Wae Rebo terdapat 5 kelompok UMKM yang setiap harinya bergantian untuk menjual kerajinan mereka kepada wisatawan yang datang. Rata-rata satu kain ukuran besar ditenun selama kurang lebih 2 bulan. Harga kainnya pun dijual mulai dari Rp500.000 saja. Dengan tingkat kesulitan dan lamanya proses produksi harga tersebut tergolong murah. Kain tenun dari Wae Rebo memiliki ciri khas yaitu motif manggarai dan memiliki warna yang lebih cerah.

Sebagai pecinta kain tradisional, kain tenun ini menjadi gendam yang menggoda. Jadi, rasanya wajib untuk membeli kain tenun Wae Rebo apabila berkunjung ke sana.


Kopi dan Jeruk Khas Wae Rebo

Wae Rebo
Source: Youtube/TRANS7 OFFICIAL

Komoditas utama dari sektor pertanian di Wae Rebo adalah kopi dan jeruk. Ada 3 jenis kopi yang dapat tumbuh di sini yaitu robusta, arabika, dan kolombia. Kopi Wae Rebo bukan sekadar welcome drink bagi wisatawan yang datang. Lebih dari itu, biji-biji kopi tersebut adalah penyangga hidup bagi masyarakat Wae Rebo. Warga dapat memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi dari hasil menjual kopi. Panen raya biasanya dilakukan antara bulan April hingga Agustus. 


Di sini pengolahan kopi masih dilakukan serba tradisional, melalui tiga kali proses penumbukan. Kopi dipanen, lalu ditumbuk, dicuci, dan dijemur. Setelah kering, kopi kembali ditumbuk untuk kemudian disangrai. Lalu, biji kopi ditumbuk untuk ketiga kalinya. Ketika sudah menjadi bubuk, kopi dikemas untuk dijual kepada wisatawan. Menurut wisatawan yang pernah datang untuk mencicipi, cita rasa kopi Wae Rebo berbeda dengan di daerah lain. 

Meski perutku tak pernah bersahabat dengan kopi, ketika berkunjung ke Wae Rebo sepertinya aku tetap harus mencobanya. Agar pulang tidak membawa rasa penasaran.

Selain kopi, masyarakat Wae Rebo juga menanam jeruk. Jeruk dalam bahasa lokal disebut nderu. Wae Rebo merupakan penghasil jeruk terbesar di Pulau Flores. Ada tiga jenis jeruk yang ditanam di sini yaitu nderu raja, nderu cina, dan nderu pao. 

Nderu raja ukuran buahnya cukup besar namun rasanya asam. Sedangkan nderu cina, meski ukurannya paling kecil namun rasanya manis. Berbeda dengan kedua jenis jeruk tersebut, nderu pao memiliki bentuk yang tidak bulat, namun agak lonjong. Sama dengan kopi, panen raya jeruk di Wae Rebo juga dilaksanakan pada bulan April-Agustus setiap tahunnya.


Perjalanan Menuju Wae Rebo

Wae Rebo
Source: Youtube/Leonardo Edwin

Last but not least, eksotisme Wae Rebo yang membuatku jatuh hati adalah rute perjalanan menuju Wae Rebo. Karena lokasi kampung adat berada di pegunungan, maka wisatawan yang datang harus melakukan pendakian selama 3-4 jam mulai dari Desa Denge. Melewati bukit dan lembah dengan jalan setapak. Ya, mirip naik gunung gitu. Sejak kuliah aku memang ingin sekali naik gunung, tapi belum kesampaian. Jadi, naik ke Wae Rebo sama seperti ‘sekali mendayung, 2-3 keinginan tercapai.’  

Oh iya, karena jalan setapak menuju Wae Rebo ada beberapa cabang, maka pastikan kamu menyewa tour guide, ya. Supaya tidak tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Karena aku tanpamu, butiran debu. Eh, malah nyanyi.

Untuk menuju Wae Rebo, pengunjung akan melewati 3 pos pendakian. Setelah sampai pos terakhir, pengunjung wajib memukul kentongan, atau Pepak dalam bahasa Wae Rebo, sebagai penanda bahwa ada tamu yang datang. Destinasi wisata kampung adat Wae Rebo buka setiap hari selama 24 jam. Setelah memasuki kampung adat, pengunjung harus menuju niang gendang atau rumah utama yang paling besar untuk mengikuti upacara adat penyambutan tamu. 



It Will Be Unforgettable Vacation

Bertualang ke Wae Rebo, pasti akan menjadi tamasya mewah yang tak terlupakan. Setidaknya, sekali saja dalam hidup, semoga aku bisa menyambangi my dream destination, Wae Rebo. 

Menghirup sejuknya udara pegunungan, melihat hijaunya bukit yang membentang, menikmati sajian kuliner di mbaru niang, dan merasakan hangatnya suasana khas pedesaan adalah impian yang semoga segera menjadi kenyataan.